Karisma, kemulian dan kebaikan seseorang tidak dapat dilihat atau diukur dari segi kekayaan, harta benda melimpah, tidak dapat Dipandang dari sisi kedudukannya sebagai atasan, pemimpin dan jabatan ataupun dari segi nasab seperti putra orang berpengaruh, bangsawan atau penyanyi, bahkan kepintaran atau kepandaian pun belum bisa dijadikan patokan bahwa orang itu baik atau mulia. Mulia dan hinanya, baik dan buruknya seseorang hanyalah dapat diukur melaui akhlak, tingkah laku,dan sikap seseorang. Orang kaya tidak dapat dikatakan sebagai orang mulia dan baik bila ia masih menyombongkan dirinya atas apa yang ia miliki, masih terus mengejar kekayaan akan tetapi lupa akan haknya kepada saudara-saudara, orang miskin dan orang yang membutuhkannya Sama halnya dengan seorang pemimpin .selagi ia take dapat mengangkat derajat rakyat meringankan beban orang lemah atau miskin selagi masih sewenang-wenang masih memanfaatkan jabatan seenaknya, semaunya sendiri.maka ia takdapat dikatakan sebagai pemimpin yang baik dan take layak untuk dijadikan sebagai teladan take ada bedanya pula dengan mereka yang berpengetahuan luas .mereka yang pintar. Sepintar apapun.mereka yang berilmu meski segudang ilmu ia miliki sejagat pengalaman yang ia lalui.ia akan tetap sebagai oorang yang rendah.selagi ia tidak menghiasi diri dan jiwanya dengan ahlak terpuji.dan perilaku yang baik . Pada dasarnya jiwa manusia seluruhnya adalah baik serta suci. Semasa jiwa berada dalam azali.ia selalu tunduk dan patuh pada aturan dan perintah tuhannya berada dakat disisinya. Akan tetapi setelah berada di alam dunia, alam di mana jasad manusia hidup, jiwa manusia terpesona dan tertarik atas keindahan dunia yang bersifat sementara dan menggiurklan serta dapat melupakan tuhannya. Jiwa itu akan semakin jauh jika masih terkotori oleh sesuatu yang berbau atau bersifat duniawi. Jiwa dan hati nurani manusia sangatlah berpengaruh pada jasad manusia itu sendiri yang ia miliki. Jika hati dan jiwa itu baik maka jasad manusiapun akan ikut baik pula, dan jika hati terkotori oleh penyakit- penyakit hati dan terkalahkan oleh nafsu yang ia miliki.maka hatipun akan menjadi gelap bahkan dapat mati.artinya tertutup untuk memperoleh hidayah tuhan. Apabila hati nurani yang dimiliki mannusia sudah gelap.maka ia tak dapat membedakan antara suatu yang baik dan jelek,antara kebenaran dan kesalahan dan akhirnya nafsupun menguasai diri manusia. Bila manusia terkuasai nafsu, maka tingkah laku, perbuatan dan perkataan tidak akan mencerminkan akhlak-akhlak yang mulia, akhlak yang baik, yang ada hanya kejelekan-kejelekan akhlak dan tingkah laku dan perbuatannya pun tidak terkontrol, dan sering melanggar peraturan-peraturan agama. Kemaksiatan dan dosa sering ia lakukan. Betapa bahaya akibat dari gelapnya hati manusia, jika semua ini dibiarkan tanpa adanya tindak lanjut unstuk memperbaiki, menghapus noda-noda, dan penyakit -penyakit yang ada pada hati, maka ia akan berbuat kerusakan, bahkan dapat berbuat ingkar dan kufur kepada allah. Madlorot lain dari kegelapan hati pada diri manusia adalah ketida adanya perbedaan manusia dengan hewan. Hanya saja hewan tak dibekali pikiran, sehingga ia pun tetap pada tabi’atnya sebagi hewan. Lain halnya dengan hewan, manusia masih dapat berfikir tentang kesalahan-kesalahan yang ia perbuat, yang menyebabakan hatinya gelap. Ia masih dapat berfikir tentang kesalahan-kesalahan yang ia perbuati, yang menyebabkan hatinya gelap, masih dapat pula ia berfikir mencari cara untuk memperbaiki akhlak-akhlak hewaniyah dan tingkah laku yang ia sandang. Untuk mengetahui masih gelap tidaknya hati manusia salah satunya adalah “tidak adanya rasa bersalah, susah gelisah dan penyesalan atas kemaksiatan dan dosa yang ia perbuat, yang ia alami. Dan hilangnya rasa malu kepada tuhannya ketika berbuat kesalahan yang ia sengaja.” Sedangkan untuk mengembalikan hati manusia agar suci kembali adalah dengan menghiasi jiwa dan hati dengan “menghiasi jiwa dan hati dengan akhlak-akhlak terpuji, dengan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan kaidah-kaidah al-quran maupun al-hadist.”(:s)
Akhlak sebagai penentu baik dan mulianya seseorang
Januari 6, 2010 pada 12:55 pm (Uncategorized)
Tags: akhlak, karisma, mulya
Sudah menangkah?
November 19, 2009 pada 1:58 pm (Uncategorized)
Tags: menang, puasa, ramadan, selamat tinggal
Selamat tinggal Ramadan, selamat datang bulan kemenangan bulan dimana kita bisa menikmati hasil jerih payah setelah selama satu bulan kita berusaha mati-matian menjauhkan diri dari segala macam perbuatan yang tercela. walaupun mungkin bagi sebagian orang menganggap betapa cepatnya bulan ini berlalu. dan menganggap Ramadan yang penuh barokah dan maghfirohnya terasa begitu saja lewat, padahal kebaikan yang dilakukan masih jauh dari harapan. rugi? jelas bagi orang -orang yang menganggap bahwa Ramadan adalah bulan tempaan, bulan dimana kita berusaha untuk mengekang hawa nafsu agar bisa kita jinakkan, agar kita bisa belajar untuk berlaku jujur walaupun tidak ada orang yang melihat , seandainya kita membatalkan puasa ditengah hari adalah sebuah kerugian yang tak terkira.
lalu setelah Ramadan berlalu apa yang telah kita dapatkan? bagi sebagian orang yang pertama kali menjawab adalah kebebasan. ya, bebas melakukan apa saja. Bebas kembali beraktifitas yang mungkin selama Ramadan terasa dikekang, terasa pakewuh dan risih jika dilakukan dibulan Ramadan. kita bisa saksikan di media menjelang Ramadan, betapa gencarnya aksi-aksi pekat (penyakit masyarakat) yang dilakukan oleh sebagian ormas dan diberbagai daerah. tak ketinggalan pula sweeping dari aparat dengan dalih untuk menghormati bulan Ramadan.
lalu apalah artinya itu semua, jika setelah Ramadan hal – hal yang dilakukan mulai menjelang Ramadan sampai Ramadan itu sendiri berakhir, tak berbekas sama sekali. apakah bulan selain Ramadan dianggap tidak suci? atau memang hanya selama Ramadan saja hal tersebut dilakukan ataukah itu hanyalah tradisi yang hanya dilakukan untuk menghormati bulan Ramadan saja.
mari semuanya kita bertafakur, apakah kita memang sudah meraih kemenangan? dan apakah Ramadan telah membuat kita benar – benar menjadi taqwa sebagaimana yang termaktub dalam Alqur’an? mari bersama-sama kita tingkatkan ibadah kita. selama Ramadan kita mampu untuk bangun malam, kita mampu melakukan tadarus Alqur’an, mampu mengkhatamkan berulang kali hanya dalam tempo satu bulan. bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin. mari kita pertahankan kemenangan kita, jangan kita nodai kemenangan ini dengan melakukan perbuatan yang bisa merusak amal kita selama Ramadan, kita telah kembali menuju fitroh ibarat kertas sekarang ini adalah lembaran baru, lembaran yang masih kosong, jadi jangan sampai kita isi dengan perbuatan yang akan merugikan kita sendiri. kita tingkatkan ketakwaan kepadanya bukankah pepatah arab mengatakan bahwa ‘id bukan diperuntukkan bagi orang yang berpakaian yang baru dan mewah akan tetapi ‘id diperuntukkan bagi orang yang ketaqwaannya bertambah. jadi, sudahkah kita meraih kemenangan yang sesungguhnya?
Mengaplikasikan Ramadan dalam Pergaulan
November 19, 2009 pada 1:34 pm (Uncategorized)
Tags: bulan suci, puasa, ramadan
Alhamdulillah. Puji syukur kita ucapkan kepada Allah swt yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan suci Ramadan. Bulan yang penuh barokah, rahmat dan magfirohnya. Bulan dimana kita bisa menumpuk pahala, karena jika kita beribadah didalamnya tentu saja bakal diberi balasan yang berlipat. Sungguh sangat beruntung sekali kita dapat menjumpainya.
Puasa dibulan Ramadan merupakan ajang pembuktian. Dimana kita harus menjaga diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak fajar hingga terbenamnya matahari. Pun pada Ramadan kita juga bisa banyak belajar mulai dari bersabar, menahan diri dari sifat-sifat tercela bahkan sampai belajar untuk berlaku jujur.
Belajar bersabar
Dengan Ramadan kita diajarkan untuk bersabar menghadapi godaan-godaan. Bayangkan kita tentu saja akan merasakan lapar dan dahaga sepanjang hari dan tentu saja ini akan mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Bahkan kadang mungkin muncul pertanyaan untuk apa sih kita berlapar-lapar puasa?
Jika menilik lebih jauh, puasa itu sebenarnya merupakan salah satu sarana pembuktian akan ketaqwaan kita. Sudah mafhum bahwa puasa — seperti yang di nash dalam al qur’an — diperuntukkan bagi orang yang memang beriman agar menjadi orang yang bertaqwa kepada Nya. Jadi bukan sembarang orang yang bisa menunaikannya, hanya orang-orang yang benar-benar memiliki imanlah yang merasa terpanggil.
Selain itu Ramadan juga mengajarkan kepada kita bagaimana kita berlaku jujur. Baik pada diri sendiri maupun orang lain. Kita bisa saja makan dan minum ditempat sepi yang dimungkinkan tidak ada orang yang melihat. Akan tetapi karena kita yakin bahwa walaupun tidak ada seorangpun melihat namun ada dzat yang maha melihat yang mengawasi gerak gerik kita. Dan akhirnya timbullah rasa jujur.
Alangkah bijaksananya jika hal-hal yang bisa kita pelajari dibulan Ramadan kita aplikasikan pada kehidupan kita sehari-hari. Alangkah indahnya jika kita bisa berlaku jujur pada diri kita sendiri tidak hanya pada saat Ramadan saja. Alangkah damainya jika kita bisa menghindari sifat-sifat tercela yang bisa merusak citra diri kita sendiri. Apalagi diluar Ramadan.
Jadi apa yang kita peroleh selama Ramadan tidak hanya sekadar rasa lapar dan haus. Akan tetapi ada hal-hal yang besar yang bisa kita ambil pelajaran yang mungkin tidak terfikirkan diluar Ramadan.
Tantangan Ilmu Komunikasi Masa Kini
Maret 6, 2009 pada 8:51 am (catatanku)
Tantangan Ilmu Komunikasi Masa Kini
Sabtu, 24-11-2007 07:15:12
oleh: M Yusuf
Kanal: Opini
Tantangan Ilmu Komunikasi Masa Kini Pernah nonton fim Negotiator? Apa sigh sebenarnya tugas seorang negotiator? Pelobi atau negotiator adalah menangkap penjahat tanpa harus dengan baku senjata. Senjatanya hanyalah kemampuan berkomunikasi. Tanpa ‘lie detector’ misalnya, negotiator bisa mengetahui bahwa seorang penjahat berbohong, hanya melalui bahasa tubuhnya. Dengan kemampuan menyusun kata, hati penyandera bisa dilumerkan, kemudian dilakukan negosiasi. Melihat film ini seakan melihat prakteknya dari teori komunikasi.
Di dunia modern saat ini, tidak bisa tidak meninggalkan ilmu komunikasi. Untuk bisa meraih sukses maka seseorang harus trampil berkomunikasi. Presiden-presiden AS bisa menjadi contoh dalam hal berkomunikasi. Abraham Lincoln misalnya, yang dikenal sebagai jago persuasi. Lain lagi ketika berbicara dengan Ronald Reagan maka seakan kita telah berjasa baginya. Pun begitu dengan Clinton. Ketika Anda berbicara dengan Clinton, maka seakan kita lebih hebat darinya. Ini dipakai para mantan presiden Amrik tersebut untuk menarik simpati dari pendukungnya. Hebat.
Di dunia bisnis juga demikian. Hermawan Kartajaya pandai sekali memuji lawan bicaranya. Kata ‘luar biasa’ sering terucap dari bibirnya. Berbicara dengannya tanpa terasa berat untuk mengemukakan segalanya. Bahkan rahasia perusahaan.
Lalu dimana mereka belajar berkomunikasi itu. Sebagian besar dari mereka memang belajar secara otodidak. Lincoln sampai umur 30-an masih luntang-lantung. Sampai suatu ketika karena dia bertikai dengan seseorang terpaksa dia belajar hukum. Namun dari pergaulanlah dia mahir berkomunikasi.
Tentu tidak semua orang bisa belajar dari pengalaman. Untunglah ilmu ini memang diajarkan secara formal di universitas. Banyak nama untuk ilmu ini di Indonesia. Imu publisistik, penerangan, komunikasi atau komunikasi massa.
Di Amerika ilmu komunikasi ini sudah demikian pesat. Karena kemajuan teknologi media massa dan perkembangan bisnis yang memayunginya. Ilmu komunikasi di sana sudah merupakan irisan dari berbagai disiplin ilmu. Anthropologi, Sosiologi, Psikologi, Marketing dan lainnya.
Di Indonesia tidak jauh berbeda. Meski dengan skala lebih kecil. Terlebih dengan regulasi UU dan semangat reformasi, kebebasan berpendapat menjadi lebih terjamin. Sehingga untuk mendirikan sebuah media massa misalnya, bukan hal yang susah.
Tak heran kalau kita melihat kios-kios majalah sudah demikian banyaknya media cetak yang terbit. Sampai segmen-segmen kecil sekarang sudah ada medianya. Tidak hanya 1 namun sudah beberapa pemain yang terlibat.
Demikian juga dengan dunia TV. Kin dan nantinya akan banyak bermunculan TV regional, di antaranya Riau TV, JTV, Bali TV, Lombok TV, dan TV daerah lain. Hal ini ditangkap sebagai peluang oleh dunia pendidikan. Tak heran kalau kemudian komunikasi banyak dibuka di berbagai universitas swasta. Dalam lima tahun terakhir, di Surabaya saja sudah tiga universitas yang membuka jurusan Komunikasi Massa.
Para lulusan SMA juga sudah menjadikannya sebagai tujuan utama. Ilmu komunikasi di UNAIR misalnya, sudah menjadi pilihan pertama dalam formulir UMPTN mereka. ‘Passing grade’nya sekarang malah tertinggi untuk ilmu-ilmu sosial. Luar biasa.
Namun dibalik prospek yang cerah tersebut, ada tantangan yang berat juga. Salah satunya kemajuan teknologi yang demikian pesat. Perkembangan internet dan teknologi digital adalah salah satunya. Perkembangan teknologi ini sedikit banyak mempengaruhi pola berpikir, berperilaku dan berkomunikasi.
Contoh sederhana adalah penggunaan handphone. Di mana sekarang untuk berkomunikasi menjadi lebih mudah. Contoh lain adalah pembuatan film. Dulu untuk membuat film haruslah perusahaan yeng memiliki dana besar dengan SDM yang banyak pula. Tapi kini setiap individu 0- asal punya uang – dapat melakukan hal itu. Lebih murah, lebih cepat dan bahkan lebih bagus.
Apakah dunia pendidikan tinggi sudah mempersiapkan hal ini ? Seperti menyiapkan laboratorium, mengenalkan teknologinya, mempersiapkan tenaga pengajar atau bahkan kurikulumnya.
Kalau tidak, peluang ini akan berlalu saja atau malah menjadi kesempatan bagi tenaga kerja asing. Apalagi dengan dibukanya perdagangan bebas Asean (AFTA) 2004 nanti. Sebuah peluang yang juga ancaman bagi ilmu komunikasi Indonesia.
Semoga dunia pendidikan komunikasi Indonesia sudah mengantisipasinya. Selamat ulang tahun Komunikasiku. Selamat berjuang.
sumber : myusuf, 20071122
problematika remaja
Februari 6, 2009 pada 10:59 am (catatanku)
Tags: problem, psikologi, remaja
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
PROBLEM REMAJA
oleh :dumas ,smg
Remaja adalah merupakan masa transisi atau masa peralihan dari anak menuju dewasa, masa anak dan masa remaja tidak terdapat batasan yang jelas,namun nampak adanya suatu gejala yang timbul tiba-tiba dalam permulaan masa remaja: yaitu gejala timbulnya seksualitas/genital,hingga masa remaja ini disebut masa pubertas.
Pada masa inilah setiap orang sering mengalami yang namanya krisis identitas diri atau tidak mengetahui jati dirinya sendiri,maka sering kali apabila pada masa ini gagal dalam mencarinya bisa berakibat fatal pada masa berikutnya ataupun pada saat masa ini sedang dijalankan. Remaja sering ingin mengetahui dan mencoba hal-hal yang baru tanpa menyaring terlebih dulu mana yang baik dan buruk yang penting tau,dan remaja biasa cenderung belum bisa memutuskan atau masih sulit dalam mengambil keputusan (Lewin,1939) Diambil dari Monks Dkk.
Pornografi memang mirip wabah penyakit karena itu perlu vaksin baru yang lebih mujarab untuk menghambat penyebaran atau peredaranya. Sudah barang tentu faktor pembawa virus atau kuman penyakit sangat keberatan dan akan mati-matian menolak peredaran vaksin baru yang lebih mujarab.
Anehnya,ada diantara teman kita yang merasa sehat,yakin tidak tertular,membuat slogan menolak penyakit itu.namun mati-matian menolak peredaran vaksin baru,persis anak-anak yang menolak di suntik dan di beri obat dengan alasan bermacam-macam.
Memprihatinkan! Kata yang sepantasnya dikatakan untuk menyikapi kasus tersebut diatas. Belum lama heboh kasus penayangan video porno yang pelakunya oleh seorang anggota DPR Yahya zaini dengan penyanyi Dangdut Maria eva reda dibicarakan,kini masyarakat di Kendal Jawa Tengah mulai dikejutkan lagi dengan beredarnya VCD yang berisi adegan serupa atau adegan mesum dilakukan oleh pasangan pelajar,ini benar-benar sudah memprihatinkan.
Yang lebih memprihatikan lagi,pelaku sekarang sedang duduk di bangku kelas 3 SMA yang sebentar lagi akan melaksanakan ujian akhir,apakah hal ini tidak mencoreng nama dunia pendidikan kita,yang sebetulnya mereka harus belajar untuk menghadapi ujian tapi,yang terjadi apa?mereka malah berbuat hal yang tidak bermoral yang justru merugikan bagi mereka.
Orang-orang terdidik yang seharusnya menjadi penopang harapan bangsa justru malah menodainya dengan tingkahlakunya yang tidak bermoral. Dunia pendidikan di negara kita memang sedang memprihatinkan,tiga tahun belakangan ini banyak pelajar kita yang tidak lulus ujian,di tambah lagi dengan maraknya peredaran video-video porno yang pelakunya justru para pelajar atau remaja.
Memang kita sadari bahwa masa Remaja adalah masa yang mempunyai arti khusus,mengapa disebut demikian karena masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak menuju kemasa dewasa atau bisa disebut masa pubertas atau masa transisi.
Masa remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas.Ia tidak termasuk golongan anak,tetapi ia tidak pula termasuk golongan orang dewasa.Remaja masih belum mampu untuk mengatasi fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya(Calon,1953) Diambil dari Monks Dkk.
Remaja biasa diselimuti dengan rasa ingin tau dan ingin mencoba hal-hal yang baru,untuk mencari identitas diri,karena masa remaja bisa kita sebut dengan masa Krisis Identitas deri,sehingga remaja akan mencari identitas dirinya dengan meniru memodel,imitasi tingkahlaku orang lain yang di lihat,dilakukan secara sadar atau tidak contohnya:orang tua,orang yang lebih dewasa,artis-artis,tokoh idola dsb.(Bandura dan Walters,1963) Diambil Dari Monks Dkk.
Dalam menganalisa kasus tersebut diatas,saya mencoba menggunakan metode Behavioral Educational psychology,pada umumnya behavioral atau tingkah laku semula dianggap genetik,akan tetapi dalam banyak penelitian empiriks menyimpulkan bahwa perilaku ialah senantiasa akan berkaitan erat dengan lingkungan.
Behavior mengacu pada hampir semua aktivitas dan tingkah laku manusia,termasuk dalam berbagai bidang,seperti proses fisiologis,psikologis dan biokimiawi dasar. Hal ini dalam metode behavior menyebutkan bahwa kita dapat belajar untuk mengendalikan banyak aktivitas fisiologis orang yang sebelumnya belum ada yang memikirkan atau sama sekali belum terpikirkan dikalangan terpelajar. Kajian psikologis sangat luas yang didasarkan pada pendekatan aktivitas manusia yang meancoba menjelaskan perilaku terhadap beberapa prinsip kesederhanaan.
Kata “behavior” harus tidak dikacaukan dengan pemahaman penggunaan bahasa yang sering kita gunakan sehari-hari,sebab perilaku itu banyak konotasi dan intrepretasi lainya,oleh karena itu perilaku itu digunakan khusus dalam perubahan perilaku dengan tujuan ilmiah yang teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari atau dalam artilain tidak hanya dengan melihat tetapi juga diamati dan juga dipelajari. Behavior merupakan suatu ilmu dalam ilmu psikologis yang mana secara alami kompatibel dengan pendidikan dan secara alami cenderung untuk memperlihatkan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia belajar.
Prinsip utama yang harus dilakukan dalam psikologi behavior berlaku umum untuk semua strata dalam pendidikan,sebagaimana penguatan atau reinforcement juga diberlakukan demikian. Reinforcement ialah suatu konsekuensi atau tanggung jawab dari suatu tindakan yang dibuat bahwa tindakan lebih memungkinkan untuk diulangi lagi.
Penguatan ialah serupa dengan reward atau hadiah,penghargaan. Gagasanya ialah tidak terlalu berlebihan atau sederhana tetapi bisa bermacam-macam variasinya. Ada banyak jalan untuk menggolongkan penguatan atau reinforcement dan kategorinya. Perbedaan yang instrinsik dan ekstrinsik di dasarkan dari apakah perilaku seseorang terjadi penguatan dalam dirinya sendiri atau apakah penguatan itu dikarenakan oleh reward atau hadiah,penghargaan itulah yang bukan merupakan bagian integral dari perilaku atau tingkah laku sebenarnya (Robert,1975).
Maka suatu tingkah laku dapat dipelajari dengan”melihat”saja. Dalam hal kasus ini,memungkinkan pelaku juga melakukan hal yang serupa,mereka ikut-ikutan atau meniru dari tokoh idola mereka melakukannya kemudia mereka menirunya tanpa memikirkan sebab dan akibatnya. Atau bisa jadi sipelaku mempunyai sikap yang agresif,hanya dengan pernah melihat ia akan menirunya.
Dikatakan oleh Bandura untuk dapat meniru model dengan baik harus ada 4 persyaratan yang harus di penuhi oleh sipenirunya, yaitu:
Ø Perhatian(suatu model tidak akan bisa ditiru bila tidak diadakan pengamatan.
Ø Retensi atau disimpan dalam ingatan(tingkah laku harus dilihat dan diingat kembali).
Ø Reproduksi motoris(untuk dapat meniru dengan baik seseorang harus memiliki kemampuan motorik).
Ø Reinforsemen dan motivasi(orang yang menirukan harus melihat tingkah laku itu sebagai tingkah laku yang terpuji dan bermotivasi untuk menirukanya).
Dari hal di atas kita bisa mengetahui bahwa tindakan yang di lakukan sipelaku adegan video porno belum bisa memenuhi persyaratan dalam hal memodel,buktinya mereka melakukan peniruan yang salah atau melenceng sehingga menyebabkan hal yang negatif. Dalam saya menganalisa kasus ini,saya dapat menangkap bahwa sipelaku dalam melakukan tindakan ini merupakan tingkahlaku agresi yang berasal dari kepribadianya yang tampak.
Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi (Davidoff, 1991) Diambil dari Walgito,Bimo.
1) Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya.
2) Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Prescott (Davidoff, 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang tidak pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan penghancuran (agresi). Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurang rangsangan sewaktu bayi.
3) Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. Dalam suatu eksperimen ilmuwan menyuntikan hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akan menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang sedang mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progresteron menurun jumlahnya akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan mereka mudah tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu banyak wanita yang melakukan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada saat berlangsungnya siklus haid ini.
Salah satu pandangan berpendapat bahwa manusia itu merupakan individu yang mempunyai dorongan – dorongan atau keiginan – keinginan yang pada prinsipnya membutuhkan pemuasan atau pemenuhan. Tetapi dalam kenyataanya tidak semua dorongan atau seua kenginan itu dapat dilaksanakan dengan secara baik. Dorongan yang tidak memperoleh pelepasan atau tidak dapat dipenuhi,terdorong dan tersimpan dalam bawah sadar,yang pada suatu ketika akan muncul kembali diatas sadar bila keadaaan memungkinkan. Salah satu pendapat yang dikemukakan oleh (FREUD) Diambil dari Monks Dkk.menyatakan bahwa struktur pribadi manusia itu terdiri dari 3(Tiga)bagian, yaitu:
1. DAS ES (THE ID)
Yaitu komponen yang mendorong keninginan – keinginan,nafsu – nafsu yang ingin segera dipuaskan atau di realisasikan maka di sebut PRINSIP KEPUASAN dan PRINSIP KEINGINAN untuk mencapai kepuasan.
2. DAS ICH(THE EGO)
Yaitu merupakan kemampuan menyesuaikan dengan lingkungan atau dengan realitas atau sesuai dengan realitas yang ada,karena itu merupakan kontrol yang memisahkan diri dengan realitas maka disebut PRINSIP REALITAS,karena dariitu,sering antara EGO dan ID berlawanan atau tidak sesuai karena ID ingin segera dipuaskan tapi,di kontrol dengan EGO sehingga bisa menjadi konflik.
3. DAS UBER ICH(THE SUPER EGO)
Yaitu merupakan kata hati,yang berhubungan dengan moral baik buruk.
Dalam kaitanya dengan kasus yang saya angkat, dari perbuatan atau tindakan yang dilakukan sangat erat kaitanya dengan kepribadiaan sipelakunya. Kepribadian yang baik atau buruk akan muncul dengan sendirinya tanpa kita sadari. Terbentuknya kepriadiaan seseorang sebetulnya diawali oleh lingkungan keluarga,yang mana dalam pendidikan keluarga peran serta orang tua(Bapak,Ibu) menjadi sangat penting dalam menentukanya. Keluarga sebagai sumber pengetahuan dan informasi sianak. Pada usia remaja memang anak perlu pengetahuan dan informasi mengenai hubungan seks atau pornografi,yang semuanya itu akan menjadi pembelajaran bagi sianak.
Kesimpulan dari kasus diatas? Kita tidak dapat mengingkari kenyataan atau fakta bahwa remaja membutuhkan suatu pengetahuan dan informasi tentang hubungan seks atau pornografi,yang nantinya akan menjadi pembelajaran bagi mereka. Tetapi dalam kaitanya dengan hal diatas keluargalah yang seharusnya menjadi pemroses pembelajaran bagi mereka. Maka,sudah saatnya peran serta keluarga menjadi sangat penting dalam memfasilitasinya.
Keluarga menjadi segala-galanya,menjadi pusat model,informasi dan pengetahuan,di samping keluarga juga di butuhkan peran serta guru disekolah sebagai seorang pendidik diharapkan mampu untuk memberi informasi dan pengetahan yang posiif tentang hal tersebut.
Remaja adalah ujung tombak dalam menentukan nasib masa depan sejarah dan penentu kemajuan bangsa, remaja rusak berarti kita teah gagal dalam menyiapkan generasi-generasi penerus bangsa. Oleh karena itu selamatkan kemajuan bangsa dengan mencetak generasi atau remaja yang berkwalitas.
DAFTAR PUSTAKA
Monks,Dkk.1998. Psikologi Perkembangan pengantar dalam berbagai bagian. Gadjah Mada University Press.
Robert,Thomas B.1975.Four Psychologies Applied To Education :Freudian,Behavioral,Humanistik,Transpersonal.Schenkman Publishing Company.New York.
Walgito,Bimo.1990. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. (Edisi Revisi). Penerbit ANDI Yogyakarta.
Diposkan oleh amy di 06:20
Beberapa Permasalahan Remaja
Oleh Lilly H. Setiono
Team e-psikologi
Jakarta, 13 Agustus 2002
Bagi sebagian besar orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan terhadap saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun saat itu. Sementara banyak orangtua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orangtua dan remaja itu sendiri. Banyak orangtua yang tetap menganggap anak remaja mereka masih perlu dilindungi dengan ketat sebab di mata orangtua para anak remaja mereka masih belum siap menghadapi tantangan dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari jatidiri yang mandiri dari pengaruh orangtua. Keduanya memiliki kesamaan yang jelas: remaja adalah waktu yang kritis sebelum menghadapi hidup sebagai orang dewasa.
Sebetulnya, apa yang terjadi sehingga remaja merupakan memiliki dunia tersendiri. Mengapa para remaja seringkali merasa tidak dimengerti dan tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya?. Mengapa remaja seolah-olah memiliki masalah unik dan tidak mudah dipahami?
Masa Remaja
Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.
Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memhami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut.
Dimensi Biologis
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.
Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.
Dimensi Kognitif
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.
Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Hal ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir anak. penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.
Dimensi Moral
Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.
Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan “kenyataan” yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap “pemberontakan” remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya. Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut.
Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam. (Baca juga artikel: Perkembangan Moral)
Dimensi Psikologis
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.
Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”. Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.
Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung-jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati-diri positif pada remaja. Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai “seseorang yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya. Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para “idola”nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja. (Baca juga artikel: Remaja & Tokoh Idola)
Salah satu topik yang paling sering dipertanyakan oleh individu pada masa remaja adalah masalah “Siapakah Saya?” Pertanyaan itu sah dan normal adanya karena pada masa ini kesadaran diri (self-awareness) mereka sudah mulai berkembang dan mengalami banyak sekali perubahan. Remaja mulai merasakan bahwa “ia bisa berbeda” dengan orangtuanya dan memang ada remaja yang ingin mencoba berbeda. Inipun hal yang normal karena remaja dihadapkan pada banyak pilihan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila remaja selalu berubah dan ingin selalu mencoba – baik dalam peran sosial maupun dalam perbuatan. Contoh: anak seorang insinyur bisa saja ingin menjadi seorang dokter karena tidak mau melanjutkan atau mengikuti jejak ayahnya. Ia akan mencari idola seorang dokter yang sukses dan berusaha menyerupainya dalam tingkahlaku. Bila ia merasakan peran itu tidak sesuai, remaja akan dengan cepat mengganti peran lain yang dirasakannya “akan lebih sesuai”. Begitu seterusnya sampai ia menemukan peran yang ia rasakan “sangat pas” dengan dirinya. Proses “mencoba peran” ini merupakan proses pembentukan jati-diri yang sehat dan juga sangat normal. Tujuannya sangat sederhana; ia ingin menemukan jati-diri atau identitasnya sendiri. Ia tidak mau hanya menurut begitu saja keingingan orangtuanya tanpa pemikiran yang lebih jauh.
Banyak orangtua khawatir jika “percobaan peran” ini menjadi berbahaya. Kekhawatiran itu memang memiliki dasar yang kuat. Dalam proses “percobaan peran” biasanya orangtua tidak dilibatkan, kebanyakan karena remaja takut jika orangtua mereka tidak menyetujui, tidak menyenangi, atau malah menjadi sangat kuatir. Sebaliknya, orangtua menjadi kehilangan pegangan karena mereka tiba-tiba tidak lagi memiliki kontrol terhadap anak remaja mereka. Pada saat inilah, kehilangan komunikasi antara remaja dan orangtuanya mulai terlihat. Orangtua dan remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda sehingga salah paham sangat mungkin terjadi.
Salah satu upaya lain para remaja untuk mengetahui diri mereka sendiri adalah melalui test-test psikologis, atau yang di kenal sebagai tes minat dan bakat. Test ini menyangkut tes kepribadian, tes intelegensi, dan tes minat. Psikolog umumnya dilatih untuk menggunakan alat tes itu. Alat tes yang saat ini umum diberikan oleh psikolog di Indonesia adalah WISC, TAT, MMPI, Stanford-Binet, MBTI, dan lain-lain. Alat-alat tes juga beredar luas dan dapat ditemukan di toko buku atau melalui internet; misalnya tes kepribadian.
Walau terlihat sederhana, dampak dari hasil test tersebut akan sangat luas. Alat test psikologi dapat diibaratkan sebuah pisau lipat yang terlihat sekilas tidak berbahaya; namun di tangan orang yang “bukan ahlinya” atau yang kurang bertanggung-jawab, alat ini akan menjadi sangat berbahaya. Alat test jika diinterpretasikan secara salah atau tidak secara menyeluruh oleh orang yang tidak berpengalaman atau tidak memiliki dasar ilmu yang cukup untuk mengartikan secara obyektif akan membuat kebingungan dan malah membawa efek negatif. Akibatnya, para remaja akan merasa lebih bingung dan lebih tidak merasa yakin akan hasil tes tersebut. Oleh karena itu sangatlah dianjurkan untuk mencari psikolog yang memang sudah terbiasa memberikan test psikologi dan memiliki Surat Rekomendasi Ijin Praktek (SRIP), sehingga dapat menjamin obyektivitas test tersebut.
Satu hal yang perlu diingat adalah hasil test psikologi untuk remaja sebaiknya tidak ditelah mentah-mentah atau dijadikan patokan yang baku mengingta bahwa masa remaja meruipakan masa yang snagat erat dengan perubahan. Alat test ini tidak semestinya dijadikan buku primbon atau acuan kaku dalam penentuan langkah untuk masa depan, misalnya dalam mencari sekolah atau mencari karir yang cocok. Seringkali, seiring dengan perkembangan remaja dan perubahan lingkungan sekitarnya, konklusi yang diterima dari hasil test bisa berubah dan menjadi tidak relevan lagi. Hal ini wajar mengingat bahwa minat seorang remaja sangat labil dan mudah berubah.
Sehubungan dengan explorasi diri melalui internet atau media massa yang lain, remaja hendaknya berhati-hati dalam menginterpretasikan hasil-hasil yang di dapat dari test-test psikologi online melalui internet. Harap diingat bahwa banyak diantara test tersebut masih sebatas ujicoba dan belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu dibutuhkan kejujuran untuk mampu menerima diri apa adanya sehingga remaja tidak mengembangkan identitas “virtual” yang berbeda dengan diri yang asli. (baca juga artikel: Explorasi Diri Melalui Internet)
Selain beberapa dimensi yang telah disebutkan diatas, masih ada dimensi-dimensi yang lain dalam kehidupan remaja yang belum sempat dibahas dalam artikel ini. Salah satu dari dimensi tersebut diantaranya adalah dimensi sosial.
Tip untuk Orangtua
Dalam kebudayaan timur, masih banyak orangtua yang menganggap anak adalah milik orangtua, padahal seperti yang dituliskan oleh Khalil Gibran: Anak Hanya Titipan Sang Pencipta. Ia bukan kepanjangan tangan orangtua. Ia berhak memiliki kehidupannya sendiri, menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Tentu saja peran orangtua sangat besar sebagai pembimbing. Dalam usia remaja, kemampuan penentuan diri inilah yang semestinya dilatih. Remaja seperti juga semua manusia lainnya – belajar dari kesalahan. Bagi para orangtua ada baiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Mulailah menganggap anak remaja sebagai teman dan akuilah ia sebagai orang yang akan berangkat dewasa. Seringkali orangtua tetap memperlakukan anak remaja mereka seperti anak kecil, meskipun mereka sudah berusaha menunjukkan bahwa keberadaan mereka sebagai calon orang dewasa.
Hargai perbedaan pendapat dan ajaklah berdiskusi secara terbuka. Nasihat yang berbentuk teguran atau yang berkesan menggurui akan tidak seefektif forum diskusi terbuka. Tidak ada yang lebih dihargai oleh para remaja selain sosok orangtua bijak yang bisa dijadikan teman.
Tetaplah tegas pada nilai yang anda anut walaupun anak remaja anda mungkin memiliki pendapat dan nilai yang berbeda. Biarkan nilai anda menjadi jangkar yang kokoh di mana anak remaja anda bisa berpegang kembali setelah mereka lelah membedakan dan mempertanyakan alternatif nilai yang lain. Larangan yang kaku mungkin malah akan menyebabkan sikap pemberontakan dalam diri anak anda.
Jangan malu atau takut berbagi masa remaja anda sendiri. Biarkan mereka mendengar dan belajar apa yang mendasari perkembangan diri anda dari pengalaman anda. Pada dasarnya, tidak ada anak remaja yang ingin kehilangan orangtuanya.
Mengertilah bahwa masa remaja untuk anak anda adalah masa yang sulit. Perubahan mood sering terjadi dalam durasi waktu yang pendek, jadi anda tidak perlu panik jika anak remaja anda yang biasanya riang tiba-tiba bisa murung dan menangis lalu tak lama kemudian kembali riang tanpa sebab yang jelas.
Jangan terkejut jika anak anda bereksperimen dengan banyak hal, misalnya mencat rambutnya menjadi biru atau ungu, memakai pakaian serba sobek, atau tiba-tiba ber bungee-jumping ria. Selama hal-hal itu tidak membahayakan, mereka layak mencoba masuk ke dalam dunia yang berbeda dengan dunia mereka saat ini. Berikanlah ruang pada mereka untuk mencoba berbagai peran yang cocok bagi masa depan mereka. Ada remaja yang menurut tanpa membantah keinginan orangtua mereka dalam menentukan peran mereka, misalnya jika kakek sudah dokter, ayah dokter, kelak iapun “diharapkan dan disiapkan” untuk menjadi dokter pula. Namun ada juga anak remaja yang memang tidak ingin masuk ke dalam dunia yang sama dengan orangtua mereka. Dalam hal ini janganlah memaksakan anak mengikuti kehendak orangtua. Seperti Kahlil Gibran ….anak hanya titipan, ia milik masa depan dan kita milik masa lalu.
Kenali teman-teman anak remaja anda. Bertemanlah dengan mereka jika itu memungkinkan. Namun waspadalah jika anak anda sangat tertutup dengan dunia remajanya. Mungkin ia tidak/ kurang mempercayai anda atau ada yang disembunyikannya.
Selamat mencoba dan semoga bermanfaat. (jp)
http://edyzip.wordpress.com/2008/05/21/pola-pikir-remaja-saat-ini/
2008
Pola Pikir Remaja Sa’at Ini
Posted by edyzip under artikel remaja, cinta, kenekalan remaja
Dalam beberapa masalah sering kita jumpai mengenai permasalahan yang menyangkut soal pendidikan di negara kita ini yaitu khususnya di negara Indonesia. Masalah itu adalah menyangkut soal mutu pendidikan kita yang rendah. Menurut pakar pendidikan kita yaitu Sarif Abdulrahman bahwa pendidikan sekarang ini memang sudah dilandasi atas dasar pendidikan yang menelaah pada sisi segi estetika dan segi perkembangan pendidikan yang sudah makin maju dinegara-negara tetangga kita. misalnya negara Jepang, Cina, Inggris dan lain sebagainya. mereka umumnya yang tinggal dinegara itu mengganggap bahwa pendidikan adalah hal yang utama karena pada prinsipnya pola pikir manusia harus bisa menyatu dengan perkembangan jaman yang semakin maju. Kita kenal negara Jepang, dilihat dari sisi segi kemampuannya bahwa Jepang merupakan nomer satu dunia yang mampu mengolah pendidikan itu menjadi program yang dapat menciptakan sebuah produk yaitu tentang barang-barang hasil ciptaannya. lemari es, tv, radio mobil motor dan lain sebagainya itu semua merupakan buatan dari Jepang sendiri.
Dari sini yang menjadi pertanyaan kita bahwa kenapa kita tidak bisa seperti negara-negara tetangga kita ini yang bisa berdiri sendiri, yang bisa mandiri dan bisa mengurus negaranya sendirinya tanpa intervensi oleh pihak luar. Oleh karena itu dalam menelaah tentang permasalahan ini ayolah kita melihat dan kita tiru pendidikan disana mulai dari cara mereka bisa sukses itu bagaimana cara mereka bisa berkembang itu bagaimana. Sehingga dengan demikian kita sebagai generasi muda yang bersekolah tidak ketinggalan dalam mengejar perkembangan ini. Depatemen Pendidikan sekarang dalam hal ini harus bisa membuat suatu skema tentang perencanaan pendidikan kita ini. Skema ini khususnya untuk memajukan pendidikan agar pendidikan kita semakin maju dan semakin membuat negara menjadi berkembang. Prioritas dalam pendidikan adalah dapat dilihat dari mutu dan upaya bagaimana pendidikan kita ini bisa di akui oleh negara lain sehingga untuk itu generasi muda sekarang harus dididik dengan keras dalam pendidikan agar mereka bisa mengharumkan negara kita ini yaitu Indonesia tercinta. Dari sekian banyak remaja-remaja kita ini memang kalau kita lihat tingkat dari ketajaman berpikir atau IQ mereka itu berbeda-beda dan beragam pula. ada yang IQnya diatas rata-rata dan ada yang IQ yang dibawah rata-rata.Dari situ kita sebenarnya jangan memandang dari segi IQ seseorang tetapi kita melihat apakah dia berprestasi atau tidak remaja itu disekolahnya.
//–>
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
Entri Tersimpan
Tanggal Tulisan :
Mei 21, 2008 at 11:01 am
Kategori :
artikel remaja, cinta, kenekalan remaja
Lakukan Lebih Lanjut :
You can leave a response, or trackback from your own site.
Blog pada WordPress.com. — Theme: Connections by www.vanillamist.com
http://isrona.wordpress.com/2008/01/29/dampak-negatif-penggunaan-teknologi-informasi-dan-kom/
Dampak negatif penggunaan Teknologi Informasi dan Kom
Ibu Endang merasa beruntung anak-anaknya ‘bersahabat’ dengan komputer sejak dini. Fatih (9), anaknya yang pertama, tak hanya senang bermain games, namun juga lancar mengoperasikan berbagai program olah kata dan angka. Sementara adiknya, Nadia (4) yang baru belajar mengenal komputer, sudah asyik menjajal program pendidikan dalam mengenal warna dan bentuk saja. Fatih kini pintar matematika lantaran sering berlatih dengan bantuan komputer. Sementara Nadia punya banyak kosakata bahasa Inggris juga lantaran sering bermain komputer.
Tetapi, Ibu Rahmi justru merasa punya masalah dengan ‘keakraban’ anaknya dengan komputer. Menurutnya, Rizki (7 tahun) kini lebih sukai ‘bermain’ dengan komputernya daripada dengan teman-temannya. Rizki bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain games. Ia juga malas bila diajak menulis atau menggambar. Tak heran, tugas menggambar di sekolah tidak pernah dikerjakannya sampai tuntas. Tetapi, untuk menggambar di komputer ia sangat pandai. Maklum, dengan satu dua klik-an saja, ia sudah dapat menggambar dan mewarnai dengan sempurna.
Pernah punya pengalaman senada?
Positif-Negatif
Nina Armando, Staf Pengajar Jurusan Komunikasi FISIP UI, mengatakan bahwa kemunculan teknologi komputer sendiri sesungguhnya bersifat netral. Pengaruh positif atau negatif yang bisa muncul dari alat ini tentu saja lebih banyak tergantung dari pemanfaatannya. Bila anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan, pengaruhnya bisa jadi negatif. Sebaliknya, komputer akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual dan motorik anak.
Senada dengan Nina, Muhammad Rizal, Psi, Psikolog di Lembaga Psikologi Terapan UI, mengatakan banyak manfaat dapat diambil dari penggunaan komputer, namun tak sedikit pula mudhorot yang bisa ditimbulkannya.
Diantara manfaat yang dapat diperoleh adalah penggunaan perangkat lunak pendidikan seperti program-program pengetahuan dasar membaca, berhitung, sejarah, geografi, dan sebagainya. Tambahan pula, kini perangkat pendidikan ini kini juga diramu dengan unsur hiburan (entertainment) yang sesuai dengan materi, sehingga anak semakin suka.
Manfaat lain bisa diperoleh anak lewat program aplikasi berbentuk games yang umumnya dirancang untuk tujuan permainan dan tidak secara khusus diberi muatan pendidikan tertentu. Beberapa aplikasi games dapat berupa petualangan, pengaturan strategi, simulasi, dan bermain peran (role-play).
Dalam kaitan ini, komputer dalam proses belajar, akan melahirkan suasana yang menyenangkan bagi anak. Gambar-gambar dan suara yang muncul juga membuat anak tidak cepat bosan, sehingga dapat merangsang anak mengetahui lebih jauh lagi. Sisi baiknya, anak dapat menjadi lebih tekun dan terpicu untuk belajar berkonsentrasi.
Namun, sisi mudhorot penggunaan komputer tak juga bisa diabaikan. Salah satunya adalah dari kemungkinan anak, kemungkinan besar tanpa sepengetahuan orangtua, ‘mengkonsumsi’ games yang menonjolkan unsur-unsur seperti kekerasan dan agresivitas. Banyak pakar pendidikan mensinyalir bahwa games beraroma kekerasan dan agresi ini adalah pemicu munculnya perilaku-perilaku agresif dan sadistis pada diri anak.
Akses negatif lewat internet
Pengaruh negatif lain, disepakati Nina dan Rizal adalah terbukanya akses negatif anak dari penggunaan internet. Mampu mengakses internet sesungguhnya merupakan suatu awal yang baik bagi pengembangan wawasan anak. Sayangnya, anak juga terancam dengan banyaknya informasi buruk yang membanjiri internet.
Melalui internetlah berbagai materi bermuatan seks, kekerasan, dan lain-lain dijajakan secara terbuka dan tanpa penghalang. Nina mengungkapkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa satu dari 12 anak di Canada sering menerima pesan yang berisi muatan seks, tawaran seks, saat tengah berselancar di internet.
Meski demikian, baik Nina maupun Rizal sepakat bahwa mengajarkan internet bagi anak, di zaman sekarang merupakan hal penting. Hanya saja, demi mencegah dampak negatifnya, ada beberapa hal yang harus dilakukan orangtua.
Pertama, orangtualah yang seharusnya mengenalkan internet pada anak, bukan orang lain. Mengenalkan internet berarti pula mengenalkan manfaatnya dan tujuan penggunaan internet. Karena itu, ujar Nina, orangtua terlebih dahulu harus ‘melek’ media dan tidak gatek.
”Sayangnya, seringkali anaknya sudah terlalu canggih, sementara orangtuanya tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bagaimana membuka internet, juga tidak tahu apa-apa soal games yang suka dimainkan anak. Nanti ketika ada akibat buruknya, orangtua baru menyesal,” sesal Nina.
Kedua, gunakan software yang dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak. Misalnya saja program nany chip atau parents lock yang dapat memproteksi anak dengan mengunci segala akses yang berbau seks dan kekerasan.
Ketiga, letakkan komputer di ruang publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar anak. Meletakkan komputer di dalam kamar anak, menurut Nina akan mempersulit orangtua dalam hal pengawasan. Anak bisa leluasa mengakses situs porno atau menggunakan games yang berbau kekerasaan dan sadistis di dalam kamar terkunci. Bila komputer berada di ruang keluarga, keleluasaannya untuk melanggar aturan pun akan terbatas karena ada anggota keluarga yang lalu lalang.
Cegah kecanduan
Pengaruh negatif lain bagi anak, menurut Rizal, adalah kecendrungan munculnya ‘kecanduan’ anak pada komputer. Kecanduan bermain komputer ditengarai memicu anak menjadi malas menulis, menggambar atau pun melakukan aktivitas sosial.
Kecanduan bermain komputer bisa terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain komputer. Seharusnya, menurut Rizal, orangtua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain komputer. Misalnya, anak boleh bermain komputer sepulang sekolah setelah selesai mengerjakan PR hanya selama satu jam. Waktu yang lebih longgar dapat diberikan pada hari libur.
Pengaturan waktu ini perlu dilakukan agar anak tidak berpikir bahwa bermain komputer adalah satu-satunya kegiatan yang menarik bagi anak. Pengaturan ini perlu diperhatikan secara ketat oleh orangtua, setidaknya sampai anak berusia 12 tahun. Pada usia yang lebih besar, diharapkan anak sudah dapat lebih mampu mengatur waktu dengan baik.
Peran penting orangtua
Menimbang untung ruginya mengenalkan komputer pada anak, pada akhirnya memang amat tergantung pada kesiapan orangtua dalam mengenalkan dan mengawasi anak saat bermain komputer. Karenanya, kepada semua orangtua, Rizal kembali mengingatkan peran penting mereka dalam pemanfaatan komputer bagi anak.
Pertama, berikan kesempatan pada anak untuk belajar dan berinteraksi dengan komputer sejak dini. Apalagi mengingat penggunaan komputer adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari pada saat ini dan masa yang akan datang.
Kedua, perhatikan bahwa komputer juga punya efek-efek tertentu, termasuk pada fisik seseorang. Karena perhatikan juga amsalah tata ruang dan pencahayaan. Cahaya yang terlalu terang dan jarak pandangan terlalu dekat dapat mengganggu indera penglihatan anak.
Ketiga, pilihlah perangkat lunak tertentu yang memang ditujukan untuk anak-anak. Sekalipun yang dipilih merupakan program edutainment ataupun games, sesuaikan selalu dengan usia dan kemampuan anak.
Keempat, perhatikan keamanan anak saat bermain komputer dari bahaya listrik. Jangan sampai terjadi konsleting atau kemungkinan kesetrum terkena bagian tertentu dari badan Central Processing Unit (CPU) komputer.
Kelima, carikan anak meja atau kursi yang ergonomis (sesuai dengan bentuk dan ukuran tubuh anak), yang nyaman bagi anak sehingga anak dapat memakainya dengan mudah. Jangan sampai mousenya terlalu tinggi, atau kepala harus mendongak yang dapat menyebabkan kelelahan. Alat kerja yang tidak ergonomis juga tidak baik bagi anatomi anak untuk jangka panjang.
Keenam, bermain komputer bukan satu-satunya kegiatan bagi anak. Jangan sampai anak kehilangan kegiatan yang bersifat sosial bersama teman-teman karena terlalu asik bermain komputer.
SUmber:http://info.balitacerdas.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=33
http://pertekkom.blogdetik.com/2008/04/11/dampak-positif-dan-negatif-internet/
Dampak Positif dan Negatif Internet
pertekkom-BI-2008
April 11th, 2008
Dampak Positif:
1. Internet dapat berguna sebagai media komunikasi dan banyak digunakan untuk berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia.
2. Media untuk mencari informasi atau data, mencarai data dapat dilakukan dengan cepat, melalui yahoo, google, dll
3. Kemudahan memperoleh informasi yang ada di internet sehingga manusia tahu perkembangan dunia luar dan apa saja yang terjadi.
4. Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.
5. Internet sebagai lahan informasi untuk bidang politik, pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain
6. Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan sehingga tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan. Sekarang ini banyak website yang menawarkan shopping on-line
Dampak Negatif
1. Pornografi. Internet sering dikatakan identik dengan pornografi. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela. Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal.
2. Violence and Gore. Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat ‘menjual’ situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.
3. Penipuan. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut. Jangan mudah percaya dengan tawaran-tawaran yang diberikan dan jangan sembarangan bila akan menggunakan credit card untuk belanja on-line
4. Carding
Karena bersifat langsung, cara belanja dengan menggunakan credit card adalah cara yang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet dapat mengetahui setiap transaksi yang berlangsung dan mencatat kode rahasia yang anda berikan, setelah itu mereka dapat menggunakan credit card anda untuk berbelanja kebutuhan merek dan pembeyaran akan ditagihkan kepada anda.
5. Perjudian. Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Sekarang ini bayak situs yang menyediakan perjudian seperti Cassino, Black Jack, dan lain-lain. Cara pembayaran bet-nya tentu saja dengan menggunakan credit card.
http://www.mail-archive.com/i-kan-konsel@hub.xc.org/msg00011.html
PENGARUH DUNIA MAYA DAN MEDIA MASSA
BAGI ANAK DAN KOMUNIKASI KELUARGA
Apa kata Alkitab tentang peran dan pengaruh media? Bagaimana peran
gereja dalam pemanfaatan media bagi kehidupan jemaat dan keluarga?
Apa saja yang menjadi aspek moral dan spiritual game, internet, dan
komik (media massa)?
Pendahuluan
———–
Nats Alkitab:
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan
kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau
mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan
membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau
sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila
engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda
pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan
haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada
pintu gerbangmu.” (Ulangan 6:4-9)
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada
masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
(Amsal 22:6)
TUHAN adalah pihak yang pertama-tama mengambil inisiatif secara
aktif untuk mengomunikasikan kebenaran, bahkan diri-Nya sendiri
kepada manusia. Kejatuhan manusia ke dalam dosa karena pencobaan
dari iblis dimulai dengan komunikasi yang disampaikan oleh iblis
kepada manusia dalam bentuk audio-visual. Oleh sebab itulah, manusia
terpikat oleh keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan
hidup. Iblis mengoda dengan mengarahkan pandangan manusia terhadap
buah pengetahuan yang baik dan jahat, buah yang dilarang oleh Tuhan
untuk dimakan. Buah itu kelihatannya baik untuk dimakan dan sedap
kelihatannya.
I. Standar Nilai Kebenaran
Ditinjau dari sudut pemahaman teologis, semua isi dan bentuk media
komunikasi manusia sangatlah ditentukan oleh pribadi-pribadi yang
memproduksi dan menyampaikan. Sedangkan perkembangan teknologi
informasi dan media audio-visual hanyalah dipakai sebagai alat untuk
mempermudah penyampaian komunikasi.
Dari seorang yang hidup dalam dosa, tidak mungkin ia bisa
menghasilkan komunikasi yang sesuai dengan kebenaran Allah sebab ia
sendiri “buta” dan tidak hidup dalam kebenaran itu.
Contoh:
Film yang diproduksi dengan kandungan unsur pornografi oleh seorang
seniman, mungkin dikatakan sebagai film yang mempunyai nilai seni
yang tinggi, oleh sutradara mungkin dianggap sebagai film yang bisa
membawa kekebasan berekspresi, oleh produser akan dikatakan sebagai
film yang laku dijual, dan oleh konsumen bisa dianggap film yang
enak untuk dinikmati.
Tetapi apabila seseorang memiliki nilai moral dan memegang teguh
kebenaran Tuhan, ia akan mengatakan bahwa film itu adalah film yang
merusak moral.
Jadi, standar penilaian tergantung dari nilai yang tertanam dalam
diri seseorang. Oleh sebab itu, di dalam Kitab Ulangan 6:6-9, kita
diperintahkan untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran kepada
anak-anak secara berulang-ulang; apabila kita duduk di rumah,
apabila kita sedang dalam perjalanan, apabila kita berbaring, dan
apabila kita bangun. Bahkan, pengajaran yang berulang-ulang itu juga
memakai metode visualisasi dengan mengikatkan sebuah kotak kecil
berisi firman Tuhan sebagai tanda pada tangan dan hal itu harus
menjadi lambang di dahi, serta harus dituliskan pada tiang pintu
rumah dan pada pintu gerbang.
II. Memori Otak Manusia
Memori di dalam otak manusia sama halnya dengan kemampuan sebuah
“microprosesor” hasil teknologi sekarang ini. Di dalam
“microprosesor” terdapat apa yang disebut sebagai “cache memory”.
“Cache memory” adalah memory yang berfungsi menampung semua
instruksi yang pernah atau sering dipakai oleh “microprosesor”
ketika ia mengakses data ke “main memory”. Jadi, setiap intruksi
yang pernah dieksekusi, apabila perlu dipakai lagi, bisa diambil
dari “cache memory” sehingga tidak perlu menunggu waktu yang lebih
lama untuk mengambilnya dari “main memory”. Dengan demikian, kinerja
prosesor dapat ditingkatkan.
Contoh:
Jika kita mempunyai pilihan untuk menempuh perjalanan ke suatu
tempat; katakanlah C, dan untuk mencapai tempat itu kita bisa
melalui jalan A atau jalan B. Jika jalan A adalah jalan yang biasa
dan berulang-ulang kita lewati, sedangkan jalan B jarang kita
lewati, faktor kemungkinan kita memilih jalan A akan lebih besar
daripada jalan B. Ketika sampai di persimpangan jalan dan dihadapkan
untuk memilih jalan A atau B, secara otomatis, reaksi otak akan
mengambil data di memori kita berupa jalan A yang sering kita
lewati.
Hal serupa juga terjadi dalam pengaruh media tontonan, bacaan, dan
permainan; berupa film-film, buku-buku bacaan, game, maupun
informasi dari internet. Jika seseorang mengonsumsi materi-materi
media yang bersifat merusak, ketika ia dihadapkan pada pilihan
bagaimana ia harus mengambil tindakan atau keputusan, ia akan
cenderung mengambil data dari memori yang ada di otaknya, yakni apa
yang selama ini ia lihat, dengar, dan baca.
Oleh sebab itu, pengajaran yang berulang-ulang akan diambil alih
media apabila orang tua tidak mengambil peran yang sangat penting
dalam membangun komunikasi keluarga, yaitu mengajarkan dan
menanamkan nilai-nilai kebenaran Tuhan.
III. Pengaruh Buruk Game
Berikut beberapa pengaruh buruk video game terhadap seseorang.
1. Orang yang kecanduan main game, hingga banyak menyita waktu, bisa
bermain game sampai 3 hari 3 malam.
2. Game yang penuh kekerasan bisa mengakibatkan hilangnya empati dan
belas kasihan.
3. Kecanduan game mengakibatkan gangguan kesehatan (mata, jantung,
syaraf otak, dan sebagainya).
4. Memori otak diisi dengan prinsip-prinsip yang buruk, seperti
salah satu slogan game: “Only one rule, kill or be killed”.
5. Kehidupan interaksi sosial yang kurang.
6. Pembentukan karakter yang tidak sehat.
7. Penurunan prestasi belajar, kehilangan konsentrasi.
8. Kehilangan fokus terhadap segala sesuatu yang bersifat teks.
9. Penurunan kehidupan spiritual dan lain sebagainya.
Meski begitu, ada juga game yang baik dan berguna untuk membangun
karakter, tetapi jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan
game yang isinya penuh dengan kekerasan, seks, dan karakter yang
buruk.
Kita tidak bisa membendung perkembangan teknologi masa kini sebab
teknologi akan terus berkembang. Hal yang bisa kita lakukan adalah
menggunakan teknologi secara tepat guna dan memanfaatkannya untuk
mengajarkan hal yang baik, berguna, dan yang benar kepada anak-anak
kita.
IV. Komunikasi Keluarga
Komunikasi dalam keluarga adalah komunikasi yang tidak bisa
dilakukan oleh dunia maya dan media massa. Komunikasi yang bersifat
tatap muka‚ berbincang-bincang bersama, disertai dengan beragam
ekspresi wajah, canda ria, sentuhan, belaian, dan pelukan akan
memberi arti tersendiri dan mengandung sejuta makna bagi pasangan
dan anak-anak kita (Elvis, Martin. HP & SMS: Alat Bantu atau
Pengganti? Majalah Eunike 08/Triwulan I/23).
Media tidak menganggap anak kita sebagai seorang pribadi, melainkan
sebagai konsumen dan penambah rating iklan. Media tidak bisa memeluk
anak kita.
Media tidak bisa mendengarkan anak kita, kita memiliki hak istimewa
apabila anak kita lari memasuki rumah dengan kabar yang
menggembirakan: Kita dapat mendengarkan! Pada waktu itu, kita lebih
penting dari semua acara media di dunia. Media tidak bisa
menggendong dan berdoa bersama anak kita, tetapi kita dapat
menaikkan anak kita ke tempat tidur dan menyelimutinya serta berdoa
bersama dia (Beers, Gilbert V. Orang Tua, Berbicaralah dengan Anak
Anda!).
V. Kesimpulan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan langkah yang dapat diambil
untuk mengatasi kecanduan anak terhadap dunia maya dan media
audio-visual adalah sebagai berikut.
1. Komunikasi yang efektif adalah dengan media audio-visual.
2. Bangunlah kehidupan spiritual dalam keluarga Anda.
3. Komunikasi keluarga sangat berperan dalam menanamkan nilai pada
anak dengan orang tua sebagai “role model”.
4. Menanamkan nilai kebenaran dalam diri anak itu sangat penting.
Dengan demikian, mereka akan bisa mengambil sikap untuk menolak
segala yang tidak baik. Dan sampai tua nanti pun, ia tidak akan
menyimpang dari jalan kebenaran.
5. Tidak ada jalan singkat (shortcut) untuk membebaskan anak yang
sudah telanjur kecanduan media (game, internet, dan sebagainya);
diperlukan usaha dan doa.
6. Jika komunikasi dalam keluarga tidak dibangun, peranan itu akan
diambil alih oleh media.
7. Kita tidak bisa melawan dan membendung teknologi dunia maya dan
media audio-visual.
8. Lakukan apa yang tidak bisa media lakukan bagi anak Anda.
9. Jangan terlalu terfokus pada sisi buruk anak Anda, kembangkan
nilai positif anak — bakat dan kemampuannya.
Catatan: Artikel ini merupakan makalah yang disertai dengan beberapa
cuplikan film dan game untuk menjelaskan pengaruh dan pemanfaatan
media audio-visual, komunikasi keluarga, membangun aspek spiritual,
serta tidak terlalu terfokus pada sisi negatif anak.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama situs: Situs Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3)
Penulis : Martin Elvis
URL : http://www.lk3web.info/readarticle.php?article_id=6
========== CAKRAWALA (2) ==========
ANAK ANDA DAPAT MENJINAKKAN SI MONSTER TELEVISI
Mungkin televisi merupakan kekuatan yang dapat dengan mudah merembes
masuk ke dalam masyarakat kita. Anda dan anak Anda perlu terampil
dalam menyaring hal-hal mana yang dapat Anda terima dan mana yang
tidak, selama menghadapi tabung ajaib ini. Dalam hal ini,
keterampilan untuk menyaring itu lebih diperlukan dibandingkan dalam
hal-hal lainnya. Tergantung dari kebiasaan-kebiasaan menonton dan
waktu yang dihabiskan untuk itu, televisi dapat memberikan pengaruh
yang positif atau negatif terhadap anak Anda.
Dilihat dari segi negatifnya, terlalu banyak menonton televisi atau
menonton televisi tanpa pengarahan dan didikan tertentu dari orang
tua, dapat memberi pengaruh yang merugikan seperti di bawah ini.
1. Iklan di televisi itu memengaruhi anak untuk menginginkan dan
membeli barang-barang yang belum tentu baik untuk dia atau yang
tidak betul-betul diperlukannya.
2. Televisi dapat dijadikan tempat pelarian dari kenyataan hidup
yang sebenarnya.
3. Benda ini dapat menggantikan persahabatan dan suasana bermain
yang aktif, menghalang-halangi kreativitas, dan perkembangan
pribadinya.
4. Televisi dapat menyebabkan beberapa anak tertentu menjadi
agresif dan bahkan kejam.
5. Televisi dapat menyebabkan seorang anak mempunyai pandangan yang
tidak realistis tentang dunia ini.
Akan tetapi jika digunakan dengan benar, televisi dapat bermanfaat.
1. Televisi dapat mengumpulkan dan mendekatkan keluarga.
2. Televisi dapat merangsang percakapan di antara para anggota
keluarga.
3. Televisi itu dapat melegakan perasaan tertekan dan memberi
perasaan santai kepada seorang anak.
4. Televisi dapat menjadi hiburan yang sehat.
5. Televisi dapat menjadi sarana bagi seorang anak untuk memperoleh
informasi, gagasan, dan pandangan yang lebih luas.
6. Televisi dapat memperluas persepsi seorang anak tentang dunia
ini.
Tiga pertanyaan di bawah ini merupakan pertanyaan yang paling
penting.
1. Berapa lama sebaiknya menonton televisi itu?
2. Acara-acara yang bagaimana yang sepatutnya dihindari?
3. Bagaimana cara Anda meningkatkan daya saring anak Anda dalam
memilih apa yang akan ditontonnya pada layar televisi?
Ada banyak pendapat yang berbeda-beda, tetapi beberapa prinsip
berikut ini pada umumnya dapat diterima.
1. Tidak menjadi soal berapa jam sehari atau seminggu anak Anda
diperkenankan menonton televisi (sebagian mengatakan satu jam
sehari itu batasnya; yang lainnya mengatakan boleh sampai empat
jam), tetapi demi kesehatan mentalnya, tidaklah baik bagi seorang
anak untuk menonton televisi lebih dari dua jam secara
terus-menerus (atau lebih tepat, maksimal dua jam per hari).
Menonton adalah suatu kegiatan yang pasif, sedangkan dalam
kehidupan ini orang yang aktif melakukan sesuatu jauh lebih
produktif daripada orang yang hanya sekadar menjadi pengamat.
2. Pengaturan waktu atau menonton pada saat yang tepat itu sama
pentingnya dengan jumlah waktu yang dipergunakan untuk menonton.
Apakah waktu yang dipergunakan untuk Anda sekeluarga menonton
televisi itu mengganggu waktu Anda sekeluarga makan bersama atau
menjadi pengganti saat Anda sekeluarga bercakap-cakap dengan
santai? Apakah menonton televisi telah merampas waktu bercerita
sebelum tidur atau waktu Anda sekeluarga berdoa bersama? Apakah
menonton televisi itu telah menyisihkan kesempatan untuk Anda
sekeluarga berjalan-jalan pada waktu sore, bermain, atau membaca
bersama-sama sebagai satu keluarga?
Berikut ini langkah/tips praktis yang dapat Anda terapkan.
1. Buatlah suatu survei tentang waktu yang Anda sekeluarga
pergunakan untuk menonton televisi. Sediakan suatu tabel di dekat
televisi, dan buatlah kolom-kolom untuk mencatat jam, hari, dan
judul acara yang ditonton oleh setiap anggota keluarga. Anda akan
heran melihat betapa banyaknya waktu yang dipergunakan keluarga
Anda untuk menonton televisi dan acara apa yang paling banyak
Anda tonton.
2. Cobalah membuat eksperimen dengan keluarga Anda. Sepakatilah
untuk menyimpan pesawat televisi Anda di gudang selama satu
minggu (atau bahkan satu bulan). Lalu rencanakan banyak kegiatan
keluarga untuk setiap sore dan malam. Pilihlah buku-buku dari
perpustakaan dan bacalah bersama. Belikan beberapa papan
permainan. Buatlah acara jalan-jalan bersama untuk “menjelajahi”
daerah di sekeliling tempat tinggal Anda. Tanamilah kebun; catlah
bersama salah satu ruangan dalam rumah Anda; lakukan apa saja
yang produktif dan menyenangkan sebagai satu keluarga. Hari-hari
pertama memang akan terasa sangat berat, tetapi Anda sekalian
akan segera merasa heran akan banyaknya waktu yang Anda miliki!
Pada akhir jangka waktu percobaan itu, Anda akan sanggup membuat
taksiran yang lebih objektif, yang tidak terlalu emosional,
tentang berapa banyak waktu yang pantas disediakan oleh keluarga
Anda untuk menonton televisi.
3. Penderitaan mental yang dialami seorang anak sebagai akibat
menonton televisi pada umumnya disebabkan oleh iklan yang
ditayangkan, tindak kekerasan yang disajikan, dan kehidupan yang
tidak realistis yang sering diperlihatkan dalam acara-acaranya.
Untuk mengimbangi hal ini dan untuk mengoreksi perkembangan cara
berpikir anak, Anda perlu menonton suatu tayangan bersama-sama
sehingga kemudian Anda dapat membahas segala yang keliru dan yang
tidak konsisten yang Anda lihat. Sesudah menonton suatu acara,
bicarakanlah tentang apa yang Anda lihat selagi hal itu masih
segar dalam ingatan.
a. Beberkan asumsi dan cara penilaian yang menjadi latar belakang
acara iklan yang ditayangkan.
b. Tunjukkan yang mana yang disebut kekerasan itu dan bicarakan
betapa seriusnya suatu tindakan yang kejam itu di dalam
kehidupan yang nyata.
c. Lawanlah gambaran yang keliru — yang merupakan gambaran
standar gaya televisi mengenai apa yang ideal sehubungan
dengan wanita, pria, keluarga, bangsa, dan kelompok-kelompok
agama.
d. Perhatikan dengan cermat bagaimana penyampaian berita di
televisi yang sering berat sebelah mengenai soal politik dan
sosial. Bicarakan tentang bagaimana ratusan pokok pemberitaan
yang dapat dilaporkan setiap harinya, tetapi hanya sedikit
saja yang dipilih; tunjukkan perbedaan yang halus antara mana
yang penting dan mana yang tidak. Pikirkanlah tentang
pemilihan kata-kata yang dipergunakan para penyiar yang sering
terlalu emosional.
4. Jadikanlah waktu untuk menonton televisi itu bermanfaat dengan
menyediakan waktu untuk berunding lebih dahulu. Setiap minggu,
tentukanlah bersama-sama acara-acara mana yang patut ditonton.
Tetapkanlah batas-batasnya bersama-sama. Pakailah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini sebagai pedoman untuk tontonan
yang bermanfaat.
a. Apakah acara itu menarik dan menghibur?
b. Dapatkah anak Anda mengerti acara itu?
c. Apakah acara itu menunjukkan perbedaan yang tegas antara yang
benar dan yang salah dan apakah acara itu mengajarkan cara
penilaian yang baik?
d. Apakah acara itu akan menakut-nakuti?
e. Apakah acara itu memisahkan dengan jelas antara dunia khayal
dan kenyataan hidup ini?
5. Bagi anak kecil, coretlah acara-acara yang tema utamanya ialah
kekerasan, yang membiarkan stres tanpa ada penyelesaian, yang
fokusnya pada soal ketakutan, atau yang tidak dengan jelas
membedakan antara apa yang khayalan dan apa yang merupakan
kehidupan yang nyata.
6. Ingatlah bahwa “acara-acara standar orang dewasa” yang
ditayangkan sesudah pukul delapan malam, tidak disediakan untuk
anak-anak.
7. Orang tua yang pencandu televisi tidak dapat mengharapkan bahwa
anak-anak mereka akan dapat mengendalikan diri dalam hal menonton
televisi. Jika Anda ingin anak Anda mempunyai sikap tertentu
terhadap televisi, Anda sendiri harus memberi teladan.
Anak Anda dapat dengan bijaksana memilih acara mana yang akan
ditontonnya. Percayalah bahwa Allah dapat memberi hikmat dan
bersiapsedialah untuk mulai terjun dalam pertempuran khusus ini.
Televisi tidak perlu menjadi monster di dalam keluarga Anda.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku: 40 Cara Mengarahkan Anak
Penulis : Paul Lewis
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1993
Halaman : 158 — 163
URL : http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/109/
http://smp1wonosari.wordpress.com/2007/12/01/remaja-harapan-dan-tantangan/
“ REMAJA “
HARAPAN DAN TANTANGAN
Oleh : Sri Wahyuni, S.Pd
Remaja selalu merupakan hal yang menarik untuk dibicarakan. Orang tua sibuk dengan pemikiran tentang anaknya yang sedang meningkat remaja. Guru kadang- kadang gembira menghadapi anak didiknya yang berprestasi, kadang- kadang pusing menghadapi anak didiknya yang berperangai tidak terpuji, mengganggu dan meremehkan peraturan dan disiplin sekolah.
Remaja sendiri sering sibuk dengan dirinya, yang tidak mudah dimengerti dan diterima oleh orangtuanya. Hubungan dengan teman- temannya tidak menentu, ada kalanya akrab tetapi ada kalanya bermusuhan. Mungkin pada suatu ketika dia cinta dan bangga terhadap dirinya, lain waktu dia merasa malu dan benci terhadap dirinya.
A. PENGERTIAN REMAJA
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak- kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik yang cepat. Pertumbuhan yang cepat pada tubuh remaja, luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. Dalam masyarakat, dikenal remaja dengan berbagai istilah yang menunjukkan kelompok umur yang tidak termasuk kanak- kanak tetapi juga bukan pula dewasa, misalnya jaka-dara dan bujang-gadis. Sebutan itu diperuntukkan bagi usia sekitar 13 tahun sampai 17 tahun.
Istilah remaja dalam Islam tidak ada. Didalam Al Qur’an ada kata alfityatu, fityatun yang artinya orang muda. Ada pula kata baligh yang menunjukkan seseorang tidak kanak- kanak lagi atau juga bisa berarti penentuan umur awal kewajiban melaksanakan hukum Islam dalam kehidupan sehari- hari.
B. HARAPAN DAN CITA- CITA
1. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN FISIK REMAJA
Pertumbuhan fisik dengan cepat terjadi pada remaja usia 13-17 tahun. Namun pertumbuhannya tidak serentak dan kecepatan pertumbuhan antara remaja satu dengan yang lainnya juga tidak sama. Ada yang cepat pada usia 13-14 tahun dan ada pula pertumbuhan fisiknya terjadi pada akhir remaja (17 tahun).
Pertumbuhan fisik yang tidak serentak itu menimbulkan akibat yang tidak menyenangkan bagi remaja. Tidak heran jika remaja sibuk dengan selalu memperhatikan dirinya, suka berlama- lama berdiri di depan kaca. Dimana ada kaca, mereka condong melihat dirinya lewat kaca itu. Apakah itu cermin dirumah, kaca jendela, etalase toko dan sebagainya.
Perubahan fisik yang begitu cepat itu mengakibatkan perubahan lain pada segi sosial dan kejiwaan. Remaja semakin peka dan tidak stabil, kadang- kadang ia penakut, ragu- ragu, cemas dan sering melontarkan kritikan, bahkan berontak terhadap keluarga, masyarakat ataupun adat kebiasaan.
2. PERTUMBUHAN DAN KEMATANGAN SEKS
Seiring dengan pertumbuhan fisik, terjadi pula perkembangan di dalam tubuhnya. Kelenjar kanak- kanaknya telah berakhir berganti dengan kelenjar endokrin yang memproduksi hormon, sehingga menggalakkan pertumbuhan organ seks menuju kesempurnaan. Pada remaja puteri terjadi pembesaran payudara dan membesarnya pinggul serta terjadinya haid atau datang bulan. Sedangkan pada remaja putera mulai membesarnya jakun di leher, suara menjadi sengau/besar, bahunya bertambah lebar, mulai tumbuh bulu ketiak dan kumis serta terjadinya mimpi basah.
3. PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA
Tidak ada seorangpun yang sanggup hidup tanpa tergantung kepada orang lain. Demikian pula remaja, mereka membutuhkan bimbingan dan tauladan agar dapat melalui masa- masa goncang akibat pertumbuhan fisik dan seksual yang cepat dengan sukses.
Agar remaja dapat melalui masa- masa sulit itu maka diperlukan interaksi yang baik antara remaja dengan orangtua, remaja dengan guru di sekolah, dengan teman sebaya dan dengan orang dewasa lainnya. Guru menempati tempat teristimewa di dalam kehidupan remaja karena guru merupakan cerminan dari alam luar keluarganya. Mereka lebih suka terhadap guru- guru yang terbuka untuk mendengar dan memperhatikan keluhannya dan membantu mengatasi kesulitannya. Remaja kurang senang dengan guru yang tidak mau mendengar dan mengerti keluhannya, terutama guru yang selalu menganggap muridnya harus selalu patuh dan mengikuti apa yang dikehendakinya.
C. TANTANGAN DAN MASALAH REMAJA
Masalah penting yang dihadapi oleh remaja cukup banyak, diantaranya adalah dengan timbulnya berbagai konflik dalam diri remaja.
1. Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dengan kebutuhan untuk bebas dan merdeka. Remaja membutuhkan penerimaan sosial dan penghargaan serta kepercayaan orang lain kepadanya. Dilain pihak dia membutuhkan rasa bebas, karena ia merasa telah besar, dewasa dan tidak kecil lagi. Konflik antar kebutuhan tersebut menyebabkan rusaknya keseimbangan emosi remaja.
2. Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan ketergantungan terhadap orangtua. Dilain pihak remaja ingin bebas dan mandiri, yang diperlukannya dalam mencapai kematangan fisik, tetapi membutuhkan orangtua untuk memberikan materi guna menunjang studi dan penyesuaian sosialnya. Konflik tersebut menimbulkan kegoncangan kejiwaan pada remaja sehingga mendorongnya mencari pengganti selain orangtuanya, biasanya teman, guru ataupun orang dewasa lainnya dari lingkungannya.
3. Konflik antara kebutuhan seks dan ketentuan agama serta nilai sosial. Kematangan seks yang terjadi pada remaja menyebabkan terjadinya kebutuhan seks yang mendesak tetapi ajaran agama dan nilai- nilai sosial menghalangi pemuasan kebutuhan tersebut. Konflik tersebut bertambah tajam apabila remaja dihadapkan pada cara ataupun perilaku yang menumbuhkan rangsangan seks seperti film, sandiwara dan gambar.
4. Konflik nilai- nilai, yaitu konflik antara prinsip- prinsip yang dipelajari oleh remaja dengan prinsip dan nilai yang dilakukan orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari- hari.
5. Konflik menghadapi masa depan. Konflik ini disebabkan oleh kebutuhan untuk menentukan masa depan. Banyak remaja yang tidak tahu tentang hari depan dan tidak tahu gambarannya. Biasanya pilihan remaja didasarkan atas pilihan orangtua atau pekerjaan yang populer dimasyarakat.
D. PEMBINAAN DAN PENANGGULANGAN MASALAH
Pada dasarnya remaja itu baik, akan tetapi mereka menghadapi banyak masalah, yang kadang mereka tidak sanggup untuk mengatasinya sehingga terjadi penyimpangan perilaku yang disebut kenakalan. Dalam penanggulangan kenakalan remaja, kita perlu menggunakan pendekatan psikologis. Mulai dari pamahaman tentang kenakalan remaja dan mencari latar belakang terjadinya, agar kita tidak melihat tindakan tanpa mengetahui berbagai faktor penyebabnya baik yang timbul akibat perubahan yang terjadi pada diri remaja maupun yang datang dari luar.
Oleh karena itu dalam penanggulangan kenakalan remaja bukan dengan hukuman atau ancaman tetapi dengan membantunya untuk mencari penyelesaian masalah dengan cara yang baik dan tidak bertentangan dengan hukum dan ajaran agama.
Keluarga mempunyai peranan penting dalam menciptakan ketentraman batin remaja. Dalam menghadapi kenakalan remaja, orangtua yang bijaksana dapat memahami keadaan remaja dan membantunya mengatasi persoalan yang dihadapinya.
Guru di sekolah juga mempunyai peranan penting dalam membantu remaja dalam mengatasi kesulitannya. Keterbukaan hati guru menerima keadaannya menjadikan remaja sadar akan sikap dan tingkah lakunya yang kurang baik.
Pendidikan agama yang diperoleh remaja dapat membantunya mengatasi berbagai masalah dan gejolak kejiwaan pada dirinya, maka sebaiknya semua mata pelajaran dapat menghubungkan bidang yang diajarkannya dengan ajaran agama.
DIarsipkan di bawah: Artikel
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/27/pengertian-remaja/
Pengertian Remaja
Posted on Nopember 27th, 2008 in Psikologi Remaja by Fitri
Pengertian Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.
Borring E.G. ( dalam Hurlock, 1990 ) mengatakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode atau masa tumbuhnya seseorang dalam masa transisi dari anak-anak kemasa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Sedangkan Monks, dkk ( dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja suatu masa disaat individu berkembang dari pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual, mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak menjadi dewasa, serta terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh pada keadaan yang mandiri.
Neidahart (dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dan ketergantungan pada masa anak-anak kemasa dewasa, dan pada masa ini remaja dituntut untuk mandiri. Pendapat ini hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Ottorank (dalam Hurlock, 1990 ) bahwa masa remaja merupakan masa perubahan yang drastis dari keadaan tergantung menjadi keadaan mandiri, bahkan Daradjat (dalam Hurlock, 1990 ) mengatakan masa remaja adalah masa dimana munculnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya fikir yang matang.
Erikson (dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja adalah masa kritis identitas atau masalah identitas – ego remaja. Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat, serta usaha mencari perasaan kesinambungan dan kesamaan baru para remaja harus memperjuangkan kembali dan seseorang akan siap menempatkan idola dan ideal seseorang sebagai pembimbing dalam mencapai identitas akhir.
Berdasarkan beberapa pengertian remaja yang telah dikemukakan para ahli, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja adalah individu yang sedang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial.
ciri khas mazhab as-salaf
Januari 26, 2009 pada 3:30 am (catatanku)
Tags: madhab, salaf
Ciri Khas Mazhab As-Salaf
Asy-Syaikh Khalid Azh-Zhafiri -hafizhahullah-
Sesungguhnya segala pujian hanya untuk Allah. Kami memuji kepada-Nya, meminta pertolongan hanya kepada-Nya dan meminta ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amalan-amalan kita.
Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada yang sanggup menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi hidayah kepadanya. Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim”. (QS. Ali Imran: 102)
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan Allah memperkembangbiakkan dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian”. (QS. An-Nisa`: 1)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya semua yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah kesesatan. Sedangkan semua kesesatan berada dalam Neraka, amma ba’du:
Semalam kita telah membahas suatu permasalah penting, yaitu ciri-ciri manhaj salaf, kita telah menyebutkan sebagian di antara ciri-ciri pentingnya, yang sepantasnya setiap muslim dan setiap orang yang mempunyai manhaj yang selamat, setiap sunni salafy, untuk berpegang teguh dengan ciri-ciri ini, mengamalkannya, meyakininya, mengambil tuntunan darinya dan berjalan sesuai dengan apa yang datang dalam Al-Kitab dan sunnah Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Di sana masih ada beberapa ciri agung lainnya yang akan kita sebutkan pada pertemuan kali ini.
[Kejelasan dalam manhaj dan aqidah]
Ciri ini merupakan ciri penting yang dengannya ahlussunnah wal jamaah berbeda dari selainnya, ciri ini adalah kejelasan dalam manhaj, kejelasan dalam akidah. Kamu mendapati seorang sunni salafi yang berpegang teguh dengan akidahnya, yang berjalan di atas cahaya yang datang dari Al-Kitab dan As-Sunnah, kamu akan mendapatinya mempunyai kejelasan dalam akidahnya, jelas dalam manhajnya, tidak ada kesamaran dalam manhajnya, tidak meraba-raba ke kanan dan ke kiri, tidak memalingkan wajahnya dari manusia, bahkan kamu akan mendapatinya bersikap jelas dan terang seperti terangnya matahari di siang bolong. Maka akidahnya jelas, metodenya jelas, manusia menunjuk kepadanya dan mengatakan bahwa dia adalah seorang sunni dan bahwa dia adalah salafi. Ini adalah ciri penting yang dengannya ahlussunnah berbeda dari selainnya.
Berbeda halnya dengan ahli bid’ah, karena metode mereka adalah sirriah (sembunyi-sembunyi) dan terselubung, mereka bekerja sembunyi-sembunyi, tidak ada kejelasan pada mereka. Bahkan kamu akan mendapati mereka beragama dengan cara talawwun (berubah-ubah dan berpindah-pindah) dan bermain-main dengan agama. Adapun seorang salafi, maka tidak ada sedikit pun padanya permainan dan talawwun seperti ini, bahkan lisannya mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya, lahiriahnya seperti batinnya tanpa ada perbedaan antara keduanya. Dia senantiasa memperlihatkan akidahnya yang benar, tidak bersikap segan di jalan Allah dan tidak takut -dalam menjalankan agama Allah- kepada celaan orang yang mencela. Kalau kamu menelaah manhaj ahlussunnah wal jamaah serta pokok-pokok yang mereka canangkan dalam bermuamalah dengan orang-orang yang menentang mereka dari kalangan ahli bid’ah dan selain mereka, niscaya kamu akan mendapati mereka ketika mencanangkan pokok-pokok ini, mereka akan menjelaskan dan menerangkannya dengan penjelasan yang sangat gamblang.
[Menghajr (Boikot) Ahli Bid’ah]
Karenanya kamu akan mendapati mereka mencanangkan pokok-pokok dalam masalah -misalnya- memboikot ahli bid’ah, wajibnya memboikot ahli bid’ah, dan bahwa maslahat dari boikot ini kembalinya kepada yang memboikot, sedang yang diboikot mengharuskan dia (ahli bid’ah) diperlakukan dengan perlakuan seperti itu, dengan diboikot dan dijauhi. Perkara boikot ini yang merupakan salah satu dari pokok-pokok ahlussunnah wal jamaah dalam muamalah mereka kepada ahli bid’ah, dan pelaksanaannya tergantung pada adanya maslahat, wajib untuk ditinjau dari sisi bahwa dia termasuk dari sisi-sisi penting dalam menetapkan kejelasan dalam manhaj. Kenapa mereka menetapkan adanya boikot kepada ahli bid’ah? Hal itu tidak lain karena kejelasan salafi dan untuk menjauh dari ahli bid’ah tersebut. Kamu akan mendapati seorang ahlussunnah berada di satu sisi dan ahli bid’ah berada di sisi lainnya, mereka memboikotnya, menjauhi mereka dan memusuhi mereka, tidak masuk bergaul bersama mereka. Bahkan seorang sunni itu jelas sikapnya sementara yang lainnya (ahli bid’ah) berada di dasar sumur dalam keadaan mengambang, kesana kemari dan tidak tetap pada satu pijakan. Karenanya kalau kamu juga melihat ke dalam kitab Allah, As-Sunnah dan dalam atsar para salaf as-saleh, kamu akan mendapati penetapan terhadap pokok boikot kepada ahli bid’ah ini, dan para ulama senantiasa menukil ijma akan pokok ini, bahkan ijma’ ini telah dinukil oleh lebih dari 30 imam dalam kitab-kitab mereka yang terkarang dalam akidah, mereka semua menukil ijma ahlissunnah akan wajibnya mentahdzir, wajibnya memboikot ahli bid’ah sesuai dengan maslahat yang ada.
Kami akan menyebutkan untuk kalian sebuah atsar dari Umar -radhiallahu anhu-. Ada seorang lelaki pada zaman kekhalifaannya yang bernama Shabigh bin Ishl. Kisah Shabigh bin Ishl ini sendiri sudah merupakan tempat pelajaran, dan padanya terdapat banyak faidah dan banyak perkara pokok manhaj. Shabigh ini sering mendatangi orang-orang lalu mempertentangkan kitab Allah antara satu ayat dengan ayat yang lainnya, memberikan kerancuan di tengah manusia. Dia berkata, “Apa itu “Adz-dzariyati dzarwa?” apa itu “Al-hamilati wiqra?” dia datang dengan membawa ayat-ayat yang mutasyabih dari Al-Qur`an lalu memberikan kerancuan di tengah manusia. Hal itu kemudian didengar oleh Umar bin Al-Khaththab -radhiallahu anhu-, maka beliau memanggilnya dan menyuruhnya untuk datang ke majelis beliau. Kemudian dia masuk kepada Umar lalu beliau bertanya, “Siapa kamu?” dia menjawab, “Saya hamba Allah yang bernama Shabigh,” maka Umar berkata, “Saya juga hamba Allah yang bernama Umar.” Umar sebelum itu telah menyiapkan untuknya pelepah pohon korma yang biasa dipakai untuk mencambuk. Umar lalu memukul kepala Shabigh (dengan pelepah korma itu) hingga kepalanya mengucurkan darah, kemudian beliau memerintahkan agar dia dimasukkan ke dalam penjara. Kemudian dia dipanggil lagi lalu beliau kembali memukul kepalanya hingga kepalanya mengucurkan darah. Kemudian beliau melakukan hal itu lagi pada kali ketiganya, beliau memukulnya sampai berdarah. Kemudian Shabigh berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kalau yang kamu inginkan (dengan pemukulan ini) agar apa (baca: kesesatan) yang ada di kepalaku keluar (hilang), maka demi Allah dia sudah keluar. Tapi kalau yang kamu inginkan adalah membunuhku maka bunuhlah saya dan istirahtkanlah saya (dari pemukulan ini).” Walaupun penentang ini (Shabigh) telah memperlihatkan taubatnya, akan tetapi Umar belum merasa cukup dengannya, karena yang menjadi pokok dalam agama adalah adanya kejelasan dalam manhaj dan karena yang menjadi pokok adalah seorang yang menentang harus menjauh dari ahlissunnah agar dia tidak lagi mengotori agama dan akidah mereka. Maka Umar -radhiallahu anhu-memerintahkan agar orang ini diasingkan ke Bashrah (Irak) lalu memerintahkan Ibnu Mas’ud yang ketika itu menjabat sebagai gubernur Bashrah agar memerintahkan penduduknya untuk memboikot orang itu selama setahun penuh. Sehingga setiap kali Shabigh mendatangi sebuah majelis, maka orang-orang pada berdiri seraya berkata, “Perintah Amirul Mukminin,” yakni Amirul Mukminin memerintahkan kami untuk memboikotnya dan meninggalkannya. Demikian seterusnya sampai berlalu setahun penuh dalam keadaan dia seperti ini, dia tidak masuk bergaul dengan ahlussunnah dan mereka menjauh darinya. Kemudian Ibnu Mas’ud mengirim surat kepada Umar -radhiallahu anhu- yang berisi bahwa Shabigh telah bertaubat dengan benar dan dia telah kembali kepada manhaj ahlussunnah dan telah meninggalkan kesesatan yang dulu dia berada di atasnya, maka Umar kemudian memerintahkan orang-orang agar kembali bergaul dengannya. Perhatikanlah, semua penjagaan ini diadakan bertujuan untuk memperlihatkan kejelasan dalam manhaj, untuk menyelamatkan rakyat, untuk menyelamatkan ahlussunnah wal jamaah agar tidak ada ahli bid’ah yang masuk ke barisan mereka. Kemudian waktu berlalu sampai pada zaman kekhalifaan Ali, sampai keluarnya orang-orang Khawarij lalu mereka mendatangi Shabigh. Dalam peristiwa ini terdapat talbis (penipuan) yang dilakukan oleh ahli bid’ah, mereka mengungkit-ungkit kembali kejadian yang telah lampau yang dengannya mereka membuat makar kepada ahlussunnah wal jamaah. Orang-orang khawarij datang menemui Shabigh bin Ishl lalu mereka berkata kepadanya, “Wahai Shabigh, sesungguhnya hari ini adalah kesempatanmu untuk membalas dendam, hendaknya kamu keluar bersama kami, hendaknya kamu berperang bersama kami melawan orang-orang kafir (para sahabat dan kaum muslimin, pent.).” Maka Shabigh berkata kepada mereka dengan sebuah kalimat yang agung, “Tidak, sungguh saya telah dididik oleh seorang hamba yang saleh, sungguh saya telah dididik oleh seorang hamba yang saleh,” yang dia maksud adalah Umar bin Al-Khaththab. Beliau menampakkan (bukti) taubatnya, memperbaiki jalan hidupnya setelah itu, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama. Maka kisah ini adalah sebuah kejadian besar yang menjelaskan manhaj ahlussunnah bersama orang-orang yang menentang mereka dan bersama orang yang ingin mencoba masuk ke dalam barisan ahlussunnah untuk melemparkan perselisihan di tengah-tengah mereka, untuk mencerai beraikan barisan mereka, untuk memecah belah di antara mereka, untuk melemparkan syubhat agar bisa memalingkan mereka dari manhaj ahlussunnah wal jamaah, yaitu manhaj yang sepantasnya ditempuh bersama orang yang menyimpang tersebut, seperti apa yang ditempuh oleh para sahabat, tabiin bersama Shabigh bin Ishl, dan contoh-contoh lainnya yang sangat banyak.
[Tahdzir dari Ahli Bid’ah]
Di antara perkara yang menunjukkan jelasnya mereka dalam manhaj dan nampaknya mereka dalam berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, dan hal ini -sebagaimana yang kita katakan- termasuk di antara ciri-ciri ahlussunnah wal jamaah adalah mereka mentahdzir dari mubtadi’ (ahli bid’ah). Karenanya kamu akan mendapati kitab-kitab mereka penuh berisi tahdziran dari bid’ah, tahdzir dari mubtadi’, mereka mentahdzir dari bid’ah itu sendiri, mentahdzir dari hizbiyah itu sendiri, mentahdzir dari mubtadi’ itu sendiri. Mereka sama sekali tidak merasa risih melakukannya dan mereka tidak menganggap hal itu sebagai ghibah yang diharamkan, bahkan dia termasuk ghibah yang diperbolehkan yang diperbolehkan oleh syariat, bahkan dia adalah nasehat dalam agama Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Maka tahdzir dari bid’ah dan kelompok-kelompok bid’ah ini dan dari para ahli bid’ah itu sendiri beserta penyebutan nama-nama mereka, semua perkara ini menunjukkan jelasnya mereka dalam manhaj. Mereka mentahdzir dari semua itu agar semua itu tidak masuk ke dalam barisan ahlissunnah, agar barisan tidak bercampur baur. Setiap barisan berada di sisi sendiri, ahli bid’ah beserta bid’ah mereka di satu sisi sedang ahlussunnah beserta manhaj mereka, salafiah yang bersih lagi murni berada di sisi lain.
[Syubhat Batil]
Mereka tidak mengambil ilmu dari mubtadi’, tidak belajar kepada mereka, tidak membaca kitab-kitab mereka, bahkan di dalam kitab-kitab ahlissunnah terdapat kecukupan dan di dalam kitab-kitab para ulama terdapat kecukupan, kita tidak butuh kepada kitab-kitab ahli bid’ah dan kita tidak punya keperluan untuk mendengarkan kaset-kaset ahli bid’ah. Kita tidak mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh ahli ahwa -itulah syubhat setan-: Ambillah kebenaran dari mereka dan lemparkanlah kebatilannya. Kita katakan: Betul sekali, kebenaran itu diambil dari siapa saja. Kalau ada seseorang yang datang lalu menampakkan kepada kita kebenaran maka kita harus menerima kebenaran tersebut, bagaimana pun jauhnya orang itu dari Allah. Maka kita menerima kebenaran, hanya saja perkara ini tidaklah menunjukkan kita boleh mencari-cari kebenaran dari mereka dan kita boleh mendengar kaset-kaset mereka agar kita bisa mengambil kebenaran dari mereka dan meninggalkan yang batil, atau kita membaca kitab-kitab mereka agar kita bisa mengambil yang benar dan meninggalkan yang batil. Syubhat inilah yang telah menyesatkan banyak pemuda. Dia mendapati di dalam dirinya, dia menyangka pada dirinya bahwa dia sudah kuat dalam akidahnya, dia sudah mapan dalam manhajnya, sehingga dia dengan tenang membaca kitab-kitab mereka dan tidak perduli buku siapa yang dia baca, maka dia membaca kitab seorang ikhwani, membaca kitab seorang quthbi, membaca kitab seorang takfiri, membaca kitab seorang asy’ari, membaca kitab seorang muktazili, kemudian dia berkata: Saya mengambil yang benarnya dan meninggalkan yang batil. Hendaknya orang ini mengetahui, kalau dia terus-menerus di atas metode seperti ini maka ujung-ujungnya pasti kebatilan akan masuk ke dalam hatinya. Karenanya para imam besar, para ulama besar dari kalangan mutaqaddimin, Ayyub As-Sikhtiyani dan Ibnu Sirin -rahimahullah- yang telah berada di jenjang yang tinggi, juga para ulama dari kalangan tabiin. Mereka didatangi oleh mubtadi’ lalu berkata, “Saya mau mendebat kalian dan adu argumen dengan kalian,” tapi mereka menjawab, “Tidak.” Mereka kembali berkata, “Kalau begitu dengarlah dari kami satu kalimat saja,” maka mereka segera meletakkan jari-jari mereka ke telinga-telinga mereka seraya berkata, “Tidak, walaupun setengah kalimat.” Seseorang di antara mereka (mubtadi’) pernah berkata kepada Ayyub, “Saya akan membacakan Al-Qur`an kepadamu,” beliau menjawab, “Jangan kamu membacakan sesuatu pun kepadaku, walaupun Al-Qur`an.” Maka beliau ditanya tentang hal itu, maka imam ini menjawab -itulah kalimat yang berharga-, “Sesungguhnya hati itu lemah, sehingga mungkin saja kebatilan masuk ke dalamnya, siapakah yang bisa mengeluarkan kebatilan ini dari hati? Mungkin saja dia membacakan satu ayat kepadaku lalu dia memalingkan maknanya sehingga saya menjadi sesat karenanya.” Bersamaan dengan beliau adalah seorang imam besar dan telah mencapai jenjang yang tinggi, maka bagaimana lagi dengan kita, orang-orang yang lemah, bagaimana lagi dengan para penuntut ilmu yang berprasangka baik pada diri-diri mereka sampai sangkaan baik ini menyebabkan mereka pulang kembali sehingga mereka menjadi orang-orang yang keheranan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menukil dari Al-Ghazali bahwa dulu dia membaca kitab-kitab para filosof untuk membantah mereka sampai akhirnya dia terjun ke dalam mazhab dan akidah mereka sehingga dia tersesat. Demikian pula contoh-contoh yang banyak dari kalangan orang-orang yang belajar dari mubtadi’ lalu dia menjadi sesat dan bernisbah kepada syiah, dan dari orang yang belajar kepada seorang Asy’ari lalu dia terpengaruh dengannya dan berpindah kepada mazhabnya padahal di awal hidupnya dia berada di atas sunnah. Dia pergi sebagai seorang sunni lalu belajar kepada seorang mubtadi’, bergaul dengan mereka dan membaca kitab-kitabnya dan tidak perduli, lalu dia pulang kembali, hingga akhirnya dia menjadi penyeru bid’ah bahkan menjadi orang yang memerangi ahlussunnah wal jamaah. Maka semua ini termasuk dari bentuk kejelasan dalam manhaj.
[Penamaan Ahlussunnah]
Demikian pula termasuk dari bentuk kejelasan dalam manhaj adalah nama-nama yang ahlussunnah bernama dengannya, yang dengannya mereka berbeda dari selain mereka. Maka ahlussunnah sejak awal kali mereka muncul, mereka pada zaman nabi r berada di atas satu hati, bid’ah tidak bisa masuk ke tengah-tengah mereka dan tidak mendapati jalan untuk masuk kepada mereka. Maka ketika itu mereka hanya dinamakan sebagai muslimin dan mukminin. Kemudian tatkala nampak bid’ah ilmu kalam dan khuruj (kudeta), maka mereka dinamakan ahlussunnah wal jamaah, karena mereka mengikuti sunnah dan komitmen terhadap jamaah kaum muslimin. Tatkala muncul ahlu ra`yi dari kalangan orang-orang yang lebih mengedepankan ra`yu (pendapat) di atas hadits, maka mereka dinamakan ahli hadits. Setelah itu, tatkala muncul orang-orang yang tidak memperdulikan atsar-atsar para ulama salaf, mereka tidak mau mendengar atsar dari sahabat dan tabiin, maka mereka dinamakan sebagai ahli atsar. Tatkala muncul beberapa kaum yang mengatakan: Kami di atas Al-Kitab dan As-Sunnah, maka mereka dinamakan salafiyun karena mereka mengambil Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf as-saleh dan mereka tidak hanya terbatas pada Al-Kitab dan As-Sunnah saja dengan akal-akal dan pemahaman-pemahaman mereka, bahkan mereka menamakan diri-diri mereka dengan salafiyun karena mereka mengambil Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf as-saleh.
[Tidak Ada Sirriyah Dalam Dakwah]
Demikian pula mereka terang-terangan dalam mazhab mereka, mereka tidak menempuh metode sirriyah (sembunyi-sembunyi) karena sirriyah termasuk dari tanda ahli bid’ah dan di antara tanda yang menunjukkan bahwa di dalam hati mereka ada penyimpangan. Umar bin Abdil Aziz -rahimahullah- berkata, “ Kalau kamu melihat sebuah kaum berbisik-bisik tanpa memperdengarkannya kepada orang-orang maka ketahuilah bahwa mereka sedang membangun kesesatan.” Kalau kamu melihat mereka dalam sirriyah, dalam perkumpulan sirriyah, di antara sesama mereka, mereka tidak mengabarkan ucapan-ucapan mereka dan akidah-akidah mereka kepada orang-orang, tidak menampakkannya di hadapan manusia, tidak mengumumkannya di hadapan manusia, bahkan urusan mereka berada di bawah aturah kelompok, di antara mereka ada beberapa majelis sirriyah, maka yang seperti ini tidak termasuk dari ahlussunnah wal jamaah dan ketahuilah bahwa mereka tengah membangun kesesatan.
[Bersatu di Bawah Pemerintah]
Ahlussunnah juga -bersamaan dengan kejelasan manhaj mereka-, mereka berada di bawah bendera pemerintah kaum muslimin dan tidak menentang. Mereka meyakini wajibnya mendengar dan taat kepadanya. Maka kalau kamu berada di dalam negeri Islam -seperti Negara ini (Indonesia)- maka hendaknya kamu mendengar dan taat kepada pemerintah muslim, selama pemerintahan adalah kaum muslimin, maka wajib untuk mendengar dan taat kepada mereka dalam kebaikan. Adapun ahli bid’ah, maka mereka membuat pemerintahan sendiri di dalam wilayah pemerintahan yang syar’i, mereka memasang amir (pemerintah) dakwah, amir organisasi, amir yang tersembunyi. Ini termasuk dari bentuk kudeta kepada pemerintah. Amir-amir dakwah ini yang dipasang oleh mereka para hizbiyun termasuk dari bentuk kudeta kepada pemerintah. Bahkan Ahlussunnah wal jamaah mengajar dan mendidik agar mereka mendengar dan taat kepada pemerintah mereka dan mereka tidak membolehkan durhaka kepada mereka dalam hal kebaikan. Kalau dia memerintahkan ketaatan dan kebaikan maka dia harus didengarkan dan ditaati dan tidak boleh dimaksiati dalam hal kebaikan. Tidak boleh memasang imarah (kepemimpinan), tidak boleh ada hizbiah, karena semua ini termasuk dari tanda-tanda ahli bid’ah dan kesesatan. Di antara jawaban yang paling tepat yang pernah saya dengar berkenaan dengan imarah (kepemimpinan) dalam dakwah ini. Karena imarah yang seperti ini tetap dipasang oleh mereka walaupun di dalam negeri Islam, sampai di Kerajaan Saudi Arabiah, sampai di daerah Teluk di Negara kami. Mereka memasang amir-amir pada masjid-masjid mereka, setiap masjid mempunyai amir sendiri, setiap daerah punya amir sendiri padahal wilayahnya syar’i, pemerintah ada, tapi bersamaan dengan itu mereka melakukan perbuatan ini. Maka saya pernah bertanya kepada guru kami, Syaikh Hammad Al-Anshari -rahimahullahu Taa’la- ketika kami keluar dari Masjid Nabawi. Saya berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, apa pendapatmu tentang orang yang memasang amir (pemimpin) yang mereka sangka sebagai amir dakwah bersamaan dengan adanya pemimpin (pemerintah) muslim?” maka beliau menjawab dengan sebuah jawaban yang agung, “Pemimpin yang paling akhir dari keduanya (amir dakwah) harus dibunuh.” Maksud beliau ini adalah termasuk dari bentuk kudeta, bukan maksud beliau orang itu dibunuh betul, tapi yang beliau maksud adalah bahwa hal seperti ini bisa termasuk ke dalam hadits ini, dan termasuk ke dalam bentuk-bentuk kudeta kepada pemerintah, karena dia menandingi pemerintah dalam perintah dan kekuasaannya. Maka ahlussunnah mentahdzir dan menjauh dari sirriah, mereka bersikap jelas dan terang-terangan serta bersatu di bawah jamaah kaum muslimin. Semua ini termasuk dari tanda kejelasan dalam manhaj.
[Tidak Talawwun Dalam Manhaj]
Karenanya di antara manhaj ahlussunnah wal jamaah adalah bahwa mereka berada di atas satu jalan, kokoh di atas satu jalan, dan ini termasuk dari kejelasan dalam manhaj. Mereka tidak talawwun (berubah-ubah) karena talawwun -sebagaimana yang ditegaskan oleh para ulama salaf as-saleh- termasuk di antara tanda-tanda ahli bid’ah. Talawwun dalam agama, berpindah-pindah dalam agama, dari satu mazhab ke mazhab lainnya, berpindah-pindah di antara hawa nafsu, tidak tetap pada satu pijakan dan tidak tetap pada satu mazhab, ini adalah termasuk dari tanda-tanda ahli bid’ah. Kamu melihat dia berada di sini pada satu hari lalu pindah ke sana selama beberapa hari, kemudian ke tempat lain selama beberapa hari, dan seterusnya terombang-ambing dalam hawa nafsu, karena dia mencari kebenaran tidak dengan cara yang seharusnya dan tidak mencari kebenaran dengan jalan-jalan yang dibenarkan syariat, dan hatinya tidak disertai dengan keikhlasan, kejujuran dan kecintaan dalam menuju dan mencari kebenaran. Kalau tidak maka tentunya Allah tidak akan menyia-nyiakan amalannya kalau memang dia memang betul-betul menginginkan kebenaran, memang betul menginginkan hidayah. Adapun mereka para ahli ahwa dan ahli bid’ah, maka para ulama salaf telah mencela mereka karena di antara tanda-tanda mereka yang paling nampak adalah mereka talawwun dalam agama. Maka dari sini nampak bahwa sepantasnya ahlussunnah nampak dalam manhaj dan akidah mereka, mereka tidak bertalawwun dan tidak berpindah-pindah di antara hawa nafsu. Karenanya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda -sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar dalam Shahih Muslim-, “Perumpamaan orang munafik dalam umatku seperti seekor kambing yang terlantar (hilang) yang berada di antara dua ekor kambing. Pada satu ketika dia berjalan bersama kambing yang satu dan pada kali lainnya dia berjalan bersama kambing yang kedua. Dia tidak tahu, kambing mana yang harus dia ikuti.” Ahli bid’ah, kebanyakan mereka adalah orang-orang munafik, perumpamaan mereka seperti kambing yang terlantar, terkadang dia berjalan ke sini, terkadang dia berjalan ke sana, demikianlah dia berpindah-pindah, tidak tahu mana yang harus dia ikuti. Demikianlah keadaan ahli bid’ah dan orang-orang munafik. Karenanya Huzaifah -radhiallahu anhu- berkata, “Sesungguhnya kesesatan yang sebenar-benarnya kesesatan adalah engkau mencoba mengetahui apa yang dulunya kamu ingkari dan kamu sudah mulai mengingkari apa yang dulunya kamu ketahui.” Kesesatan yang sebenar-benarnya kesesatan adalah kamu dulunya termasuk dari ahlussunnah lalu kamu menyimpang darinya dan kamu berpindah-pindah di antara hawa nafsu. Setelah dulunya kamu memandang bahwa sunnah dan manhaj salafy adalah kebenaran, kemudian kamu menyimpang bersama ahli bid’ah, setelah itu kamu melihat kebenaran -yang merupakan manhaj seorang sunni- sebagai suatu kesesatan, dan kamu melihat kesesatan -yang berupa perbuatan bid’ah- sebagai sunnah. Huzaifah berkata, “Sesungguhnya kesesatan yang sebenar-benarnya kesesatan adalah engkau mencoba mengetahui apa yang dulunya kamu ingkari -dari hawa nafsu dan bid’ah- dan kamu sudah mulai mengingkari apa yang dulunya kamu ketahui -dari sunnah Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dan manhaj salaf-.” Karenanya Umar bin Abdil Aziz -rahimahullahu Ta’ala- berkata, “Janganlah kamu jadikan agamamu sebagai ajang/bahan perdebatan, karena barangsiapa yang menjadikan agamanya sebagai bahan perdebatan maka dia akan banyak berpindah-pindah (mazhab).” Adapun orang yang senang berdebat dan adu argumen di sana sini, maka orang ini akan berpindah-pindah di antara hawa nafsu. Maka agamamu yang kamu berada di atasnya di atas keyakinan dan agamamu yang kamu yakini di atas keyakinan, janganlah kamu berpindah-pindah di antara hawa nafsu. Kalau kamu menjadikan agamamu sebagai bahan bagi orang-orang yang senang adu argumen dan senang berdebat dari kalangan ahli ahwa dan kamu membiarkan mereka menguasai dirimu, maka orang yang seperti ini akan sering berpindah-pindah. Karenanya Abu Juwairiah -salah seorang Murjiah- pernah dating kepada Imam Malik -rahimahullahu Ta’ala- lalu berkata, “Wahai Malik, saya mau berdebat denganmu.” Maka Imam Malik berkata kepaanya, “Kalau saya berhasil mengalahkan kamu, kamu yang harus ikut kepadaku?” dia menjawab, “Ia.” Beliau berkata lagi, “Kalau kamu mengalahkan saya, saya yang harus ikut kepadamu?” dia menjawab, “Ia.” Beliau berkata, “Kalau begitu pergilah kamu kepada orang yang ragu -selain saya- lalu debatlah dia dalam agamanya, karena sesungguhnya saya tidak ragu terhadap agamaku.” Maka beliau menjelaskan bahwa keraguan (dalam beragama) termasuk di antara tanda-tanda ahli bid’ah. Adapun ahlussunnah, maka mereka bukanlah orang-orang yang ragu dalam akidah dan manhaj mereka. Ibrahim An-Nakhai -rahimahullahu Ta’ala- berkata, “Mereka (para tabiin, pent.) memandang sikap talawwun dalam agama adalah termasuk dari ragunya hati kepada Allah.” Maka wajib atas seorang sunni untuk tidak talawwun dalam agamanya karena talawwun termasuk dari tanda-tanda ahli bid’ah dan kesesatan.
[Trik Ahli Bid’ah]
Kalau begitu, ketidakjelasan adalah termasuk dari manhaj dan metode ahli bid’ah. Adapun ahlussunnah as-salafiyun, maka (manhaj) mereka sangat jelas dan terang. Para ulama juga telah menyebutkan beberapa perkara yang menjelaskan metode ahli bid’ah dalam keberagamaan mereka, dalam keyakinan mereka dan dalam muamalah mereka bahwa mereka tidak jelas dalam manhaj, tidak jelas dalam akidah mereka. Karenanya Al-Imam Mufadhdhal bin Al-Muhalhil -rahimahullahu Ta’ala- berkata -dan beliau termasuk dari ulama salaf-, “Seandainya ahli bid’ah mendatangi kamu dan ketika dia pertama kali masuk ke dalam majelismu, mereka langsung menyebutkan suatu bid’ah niscaya kamu akan memboikot mereka dan kamu akan meninggalkan mereka. Akan tetapi mereka ketika pertama kali datang kepadamu, mereka membawa sunnah dan membaca hadits tentang sunnah, kemudian kalau setelah itu mereka sudah merasa berkuasa barulah mereka melemparkan bid’ah-bid’ah mereka sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, maka kapankah bid’ah itu keluar dari hatimu?” Ini adalah trik mereka, awal kali mereka datang, -padahal sebenarnya dia adalah ahli ahwa yang bertujuan untuk merusak sunnah-, dia datang dan masuk bergaul dengan mereka (ahlussunnah). Dia membacakan kepada mereka hadits-hadits tentang sunnah dan menyampaikan ilmu kepada mereka. Sampai tatkala mereka merasa sudah sanggup karena dia sudah mempuanyai kedudukan di tengah-tengah mereka setelah itulah baru dia melemparkan syubhat-syubhatnya dan hawa nafsunya. Dia mulai memecah belah dan menghancurkan barisan ahlussunnah. Ini adalah trik ahli bid’ah, mereka selalu mengusahakan agar kita membiarkan mereka masuk. Mereka sebagaimana yang diperumpamakan oleh Imam Al-Barbahari -rahimahullah- dengan ucapannya, “Ahli bid’ah itu seperti kalajengking, mereka menyembunyikan kepala-kepala mereka tapi mengeluarkan ekor-ekor mereka yang dengannya mereka menyengat,” agar dia tidak terlihat sampai akhirnya mereka bisa menyengat manusia. Demikian pula ahli bid’ah, keadaan mereka seperti keadaan kalajengking ini yang sengaja bersembunyi, sampai ketika dia sudah merasa sanggup maka dia akan segera menyengat, menyebarkan bid’ahnya, menyebarkan kesesatannya di tengah-tengah ahlussunnah wal jamaah. Di sini juga ada ucapan yang agung dari Al-Imam Abu Zur’ah –rahimahullah Ta’ala-, beliau berkata, “Mereka para ahli kalam -bahkan seluruh ahli ahwa- jangan biarkan mereka masuk ke tengah-tengah kalian -yakni jangan biarkan mereka menguasai kalian tapi hendaknya kalian senantiasa waspada dari mereka, senantiasa mentahdzir mereka- karena akhir perkara mereka akan kembali kepada sesuatu yang mereka tutup-tutupi.” Perjalanan mereka, akhir mereka dan penutupan mereka akan menampakkan bahwa mereka termasuk dari ahli ahwa dan bid’ah. Terkadang mereka bersembunyi selama setahun atau dua tahun. Beliau (Abu Zuar’ah) berkata, “Perkara mereka hanya akan tertutupi selama setahun atau dua tahun kemudian akan tersingkap maka janganlah salah seorang di antara mereka (ahlussunnah) membela mereka, karena kalau suatu ketika kejahatannya tersingkap, maka akan dikatakan kepada yang membela ini, “Kamu termasuk temannya.” Dan kalau suatu ketika dia berbalik maka yang membelanya pun akan berbalik karenanya. Maka tidak sepantasnya bagi orang yang berakal untuk memuji mereka.” Maksud beliau adalah: Bahwa mereka yang masuk ke dalam barisan ahlussunnah dari kalangan ahli ahwa lalu menyembunyikan jati dirinya, orang yang kamu masih mempunyai keraguan tentang dirinya dan yang kamu masih ragukan akidahnya. Yang seperti ini jangan kamu langsung memujinya, jangan kamu menolongnya dan jangan mengangkatnya. Akan tetapi berikan dia jangka waktu dan tunggulah hasilnya. Terkhusus kalau orang itu termasuk dari orang-orang yang kembali dari hawa nafsu dan bertaubat kepada sunnah, yang seperti ini dibiarkan dalam jangka waktu tertentu sampai dilihat perkara dan keadaannya, karena setelah jangka waktu itu terkadang jati diri sebenarnya akan terungkap. Kalau sudah tersingkap dan nampak dia termasuk dari musuh-musuh sunnah bahwa dia tadinya masuk hanya untuk membuat makar kepada ahlussunnah, maka kamu wahai yang dahulu telah memujinya maka kamu akan dicela karenanya, kamu akan dicela karena pujian itu kepadanya, karena kamu tidak memberinya jangka waktu dan terlalu tergesa-gesa memujinya dan kamu tidak menunggu sampai nampak dan jelas perkaranya. Semisal dengannya, kisah Shabigh yang terlah berlalu kita sebutkan, sang khalifah memberinya jangka waktu setahun padahal dia telah menampakkan taubatnya, akan tetapi beliau mengundurnya selama setahun. Demikian pula warid atsar dari Imam Ahmad bahwa beliau berkata, “Tunggulah seorang mubtadi’ yang bertaubat selama setahun atau dua tahun, sampai terlihat perkaranya.” Tentu saja yang dimaksud di sini bukan pembatasan setahun atau dua tahun, tapi yang dimaksud di sini adalah sampai perkaranya jelas dan nampak telah baik perjalanan hidupnya telah baik ke’sunni’annya dan dia telah kembali kepada ahlussunnah wal jamaah. Karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata tentang para ahli kalam, “Para ahli kalam terkadang menguatkan satu pendapat pada satu waktu, kemudian mereka berpindah menguatkan pendapat lain pada waktu yang lain,” yakni: Sesekali mereka menguatkan yang ini dan kali lain mereka menguatkan pendapat yang lain, mereka berpindah-pindah di antara hawa nafsu beliau berkata, “Maka mereka tidak kokoh di atas satu agama, mereka didominasi oleh keraguan.” Ini adalah salah satu dari tanda-tanda ahli bid’ah, mereka hidup dalam keheranan, didominasi oleh keraguan. Kemudian beliau -rahimahullah- berkata, “Ini adalah kebiasaan Allah pada orang yang berpaling dari Al-Kitab dan As-Sunnah,” orang yang berpaling dari kitab dan sunnah, maka kebiasaan Allah padanya adalah menjadikannya dalam kebingungan dan menjadikan keraguan dalam agamanya sehingga dia berpindah-pindah di antara hawa dan di antara ahli ahwa, berpindah-pindah dalam bid’ah, dari satu bid’ah kepada yang semisalnya, dari satu musibah kepada musibah yang lebih besar. Karena Allah -Azza wa Jalla- berfirman, “Tatkala mereka menyimpang maka Allah membuat hati-hati mereka menyimpang.” Maka ini termasuk dari hukuman kepada ahli bid’ah, hukuman dari berbuat bid’ah, yaitu kalau kamu terjun ke dalam perbuatan bid’ah maka Allah akan membuat kamu tambah menyimpang daripada penyimpanganmu sebelumnya, karena kamu tidak menghendaki kebenaran sehingga kamu berpindah-pindah di antara hawa nafsu dan di antara bid’ah, dari yang besar kepada yang lebih besar dan dari suatu musibah kepada yang lebih besar sampai kamu celaka dengan kecelakaan yang nyata.
Bahkan mereka para ahli ahwa, di antara tanda dan jalan mereka dalam menyesatkan manusia, mereka terlebih dahulu masuk bergabung dengan ahlussunnah sebagaimana yang kita katakan, memberikan kerancuan kepada ahlussunnah, mereka menampakkan diri bahwa mereka termasuk ahlussunnah kemudian mereka masuk dan melemparkan syubhat-syubhat dan hawa-hawa nafsu mereka. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh Bolis sang Yahudi tatkala dia menyusup masuk ke dalam agama Nashrani lalu dia merubahnya, memindahkannya dan merubahnya dari agama Isa lalu dia merubahnya sampai akhirnya mereka menyembah Isa -alaihissalam- dan mereka memunculkan akidah trinitas dan selainnya disebabkan karena menyusupnya orang Yahudi yang berpura-pura menjadi Nashrani, dia berpura-pura sebagai pengikut Al-Masih sehingga dia bisa masuk ke dalam agama Al-Masih lalu dia pun merusak dan merubahnya. Juga sebagaimana masuknya Ibnu Saba` sang Yahudi, Rafidhi kepada kaum muslimin, lalu dia menampakkan diri sebagai kaum muslimin lalu dia memberikan kerancuan kepada sebagian manusia sampai mereka menetapkan hak uluhiah kepada Ali -radhiallahu anhu-. Mereka datang kepada Ali lalu berkata kepadanya, “Kamu, kamu …,” beliau menjawab, “Siapa saya?” maka mereka menjawab, “Kamu adalah Allah, kamu adalah Allah.” Maka Ali -radhiallahu anhu- memerintahkan untuk menggali sebuah lobang besar lalu dinyalakan api di dalamnya, kemudian beliau melemparkan mereka semua ke dalam api itu sehingga beliau membunuh dan membakar mereka. Para sahabat -ridhwanullahi alaihin- bersepakat akan wajibnya membunuh mereka, para Saba`iyah (pengikut Ibnu Saba`) yang menetapkan uluhiah untuk Ali, hanya saja terjadi persilangan pendapat di antara mereka mengenai cara membunuh mereka. Sebagian sahabat mengingkari ijtihad Ali yang membakar mereka, sementara Ali berpendapat wajib atas dirinya membakar mereka sehingga beliau pun membakar mereka dengan api. Akan tetapi yang menjadi pokok pembahasan di sini adalah bahwa mereka menyusup ke dalam barisan kaum muslimin, mereka masuk ke dalam barisan ahlussunnah, mereka masuk ke dalam barisan salafiyun sampai mereka bisa menyesatkan mereka dan memalingkan mereka dari manhaj dan akidah mereka. Karenanya Imam As-Sijzi -rahimahullah- berkata –beliau adalah salah seorang imam salaf yang mempunyai beberapa kitab dalam membantah Asy’ariyah dan selainnya-, “Atau mungkin orang itu termasuk dari kaum itu -yakni mungkin saja lelaki itu berasal dari kelompok ahli bid’ah- lalu dia bersandiwara dalam menyelisihi mereka (ahli bid’ah) -dia datang dan masuk bergabung dengan ahlussunnah lalu dia menampakkan bahwa dia membantah hizbiyun dan bahwa dia membantah ahli bid’ah, akan tetapi sebenarnya dia termasuk dari golongan mereka. Untuk mengaburkan ucapan mereka pada apa yang mereka ucapkan lalu dia membawakan ucapan mereka dan menganggap baik ucapan mereka lalu setelah itu dia memperingan perselisihan antara ahlussunnah dengan ahli bid’ah, dari kalangan orrang-orang yang melakukan tamyi’ (kooperatif) kepada ahli bid’ah dalam masalah akidah dan manhaj ahlussunnah dalam bermuamalah dengan ahli bid’ah, sehingga dia pun akhirnya diikuti karena disangka dia menyelisihi mereka dan sangat banyak sekali makar mereka yang seperti ini yang berhasil mengenai ahlussunnah. Imam As-Sijzi -bersamaan dengan beliau adalah termasuk dari ulama abad III H- beliau berkata, “Dan sangat banyak sekali makar mereka yang seperti ini yang berhasil mengenai ahlussunnah.” Sering ahli bid’ah menyusup ke dalam ahlussunnah dengan rupa sesuai sunnah kemudian mereka memberikan mudharat yang sangat besar kepada sunnah. Beliau juga berkata, “Barangsiapa yang menghendaki keselamatan dari mereka dan keselamatan dari hawa nafsu maka hendaknya yang menjadi tolak ukurnya adalah Al-Kitab dan atsar pada setiap yang dia dengar dan dia lihat. Kalau dia berilmu tentang keduanya maka hal itu (apa yang dia peroleh) dia perhadapkan kepada keduanya dan kalau tidak (berilmu tentang keduanya) maka hendaknya dia mengikuti salaf as-saleh,” yakni: Pertama-tama dia menjadikan barometer dan tempat merujuk dalam perselisihan adalah Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf as-saleh. “Dan jangan dia menerima dari siapa pun suatu ucapan kecuali dia meminta dalilnya dari ayat yang muhkam atau sunnah yang tsabit atau ucapan sahabat dari jalan yang shahih.” Ini termasuk dari tanda-tanda ahlussunnah, yaitu mereka bertul-betul mencari dalil, senantiasa bertanya, “Apa dalil dari hal ini, apa dalil dari hal ini.” Kalau datang kepadanya suatu ucapan maka dia akan berkata, “Apa dalil dari hal ini, apa dalil dari hal ini.” Maka ini termasuk dari tanda-tanda ahlussunnah wal jamaah bahwa mereka senantiasa berusaha untuk mencari dalil. Kemudian beliau berkata, “Hendaknya dia waspada kepada kitab-kitab karangan orang-orang yang berubah keadaannya karena di dalamnya ada kalajengking dan yang terkadang tidak bisa untuk diobati.” Ini termasuk dari perumpamaan terbesar, mereka yang telah berubah keadaannya, maka kitab-kitab dan karangan-karangan mereka, ahli ahwa dan ahli bid’ah, kitab-kitab dan karangan-karangan mereka seperti kalajengking dan di dalamnya ada kalajengking. Maka terkadang dia menyengatmu dan beliau berkata, “Terkadang tidak bisa diobati,” yakni: Terkadang kamu tidak bisa mendapatkan penyembuhan dari sengatan itu atau syubhat yang telah bercokol di dalam hatimu. Ini adalah keadaan ahli bid’ah dan ahwa pada kenyataan kita sekarang, dimana kita hidup dan pada zaman kita ini.
[Contoh Nyata Dari Makar Mereka]
Kamu melihat banyak di antara mereka yang masuk dan ingin menonjol dalam sunnah, dia masuk dan berbicara tentang sunnah, kemudian tidak cukup setahun atau dua tahun kecuali kamu melihat mereka telah berpaling dari sunnah, mentahdzir ahlussunnah, mentahdzir para ulama setelah sebelumnya mereka memuji para ulama kita dan kamu melihat dia hadir dalam majelis mereka. Dia memuji Syaikh Ibn Baz, memuji Syaikh Al-Albani, memuji Syaikh Rabi’ Al-Madkhali, memuji Syaikh Muqbil. Kemudian setelah semua itu, setelah berlalu setahun atau dua tahun di masuk ke dalam Sunnah, dia telah mempunyai pengaruh dan telah tersebar darinya satu atau dua kaset, kemudian setelah itu dia memperlihatkan jati diri dia yang sebenarnya sebagai musuh yang sangat menentang ahlussunnah, dia memerangi mereka dengan peperangan yang dahsyat, seperti yang terjadi pada: Abul Hasan Al-Ma`ribi, atau selainnya, sebagaimana yang terjadi pada Falih Al-Harbi atau Fauzi Al-Atsari atau selainnya dari mereka yang menyimpang dan berbalik dari ahlussunnah dan akhirnya mereka menjadi musuh besar bagi ahlussunnah wal jamaah. Maka hendaknya waspada dan hati-hati dari orang-orang semacam ini karena mereka adalah sangat berbahaya dan besar mudharatnya bagi ahlussunnah wal jamaah. Maka semua dalil yang telah kami sebutkan ini adalah dalil-dalil yang jelas bahwa ahlussunnah mempunyai kejelasan dalam manhaj, mereka hidup di atas kejelasan dalam manhaj. Manhaj mereka, malamnya seperti siangnya. Mereka hidup dan beragama dengan lembaran yang sangat putih, hati mereka cahaya dan mereka hidup di dalam cahaya dan mereka beragama dengan cahaya, cahaya Al-Kitab dan cahaya sunnah Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Maka sepantasnya bagi kita untuk berada di atas manhaj ini, sepantasnya bagi kita untuk hidup di atas metode ini. Hendaknya manhaj kita jelas, keberagamaan kita jelas, kesalafiyaan kita juga jelas. Dengan ini akan nampak pentingnya kejelasan dalam manhaj salafi dan pentingnya seorang salafy mempunyai kejelasan dalam akidahnya, keberagamaannya dan manhajnya.
[Penutup]
Kita meminta kepada Allah Yang Maha Agung agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mempunyai sifat jelas di atas manhaj ahlussunnah wal jamaah dan termasuk orang-orang yang kokoh di atasnya sampai kita berjumpa dengan-Nya. Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan berikanlah kami rezeki untuk mengikutinya dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan berikanlah kami rezeki untuk menjauhinya. Sahalat dan salam Allah kepada Nabi kita Muhammad dan jazakumullahu khairan atas perhatian kalian.
perbangdingan antara aliran
Januari 20, 2009 pada 4:35 pm (catatanku)
Tags: akal, asy'ariyah, iman, kawarij, khawarij, kufur, maturidiyah, mu'tajilah, mu'tazilah, murjiah, pelaku dosa besar, rafhidhah, sifat-sifat allah, syi'ah, wahyu, zadiyah
PERBANDINGAN ANTARA ALIRAN
Kuliah
Akidah Ilmu Kalam
Dosen:
Drs. MUHLISIN M.Ag
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu kalam sebagaimana diketahui membahas ajaran-ajaran dasar dari sesuatu agama. Di dalam ilmu kalam itu terdapat sub bahasan yang tentang perbandingan antara aliran-aliran serta ajaran-ajarannya. Dari perbandingan antar aliran ini, kita dapat mengetahui, menela’ah dan membandingkan antar paham aliran satu dengan aliran yang lain. sehingga kita memahami maksud dari segala polemik yang ada.
B. Rumusan Masalah
dalam makalah ini penulis akan memaparkan pembahasan tentang perbandingan antara aliran-aliran yang ikut berperan dalam ilmu kalam seperti pembahasan di bawah ini.
1. Apa isi dari perbandingan aliran?
2. Aliran apa saja yang membahas tentang isi makalah ini?
C. Tujuan
Dari penjelasan makalah ini penulis bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu kalam di samping itu untuk memperdalam pemahaman mahasiswa agar mempunyai wawasan yang luas tentang pemikiran aliran-aliran dalam ilmu kalam dan bisa menentukan mana yang terbaik bagi mereka.
BAB II
PERBANDINGAN ANTARA ALIRAN
A. Wahyu dan akal
kaum Mu’tazilah berpendapat semua persoalan di atas dapat diketahui oleh akal manusia dengan perantara akal yang sehat dan cerdas seseorang dapat mencapai makrifat dan dapat pula mengetahui yang baik dan buruk. Bahkan sebelum wahyu turun, orang sudah wajib bersyukur kepada Tuhan. Menjauhi yang buruk dan mengerjakan yang baik. Berbeda dengan Mu’tazilah, kaum asy’ariyah berpendapat akal memang dapat mengetahui adanya Tuhan. Tetapi akal tidak dapat mengetahui cara berterima kasih kepada Tuhan. Untuk mengetahui hal-hal tersebut diperlukan wahyu. Melalui wahyu manusia bisa mengetahuinya. Tanpa wahyu, manusia tidak akan tahu. Golongan maturidiyah samarkan berpendapat, akal dapat mengetahui adanya Tuhan kewajiban dan berterima kasih kepada Tuhan dan mengetahui baik dan buruk. Tetapi akal tidak dapat mengetahui bagaimana kewajiban berbuat baik dan meninggalkan buruk, karena itu wahyu sangatlah diperlukan untuk menjelaskannya. Golongan maturidiyah bukhara sependapat dengan kaum asy’ariyah.
B. Pelaku dosa besar
1. Menurut aliran Khawarij
Ciri yang menonjol dari aliran Khawarij adalah watak ektrimitas dalam memutuskan persoalan-persoalan kalam. Tak heran kalau aliran ini memiliki pandangan ekstrim pula tentang status pelaku dosa besar. Mereka memandang bahwa orangorang yang terlibat dalam peristiwa tahkim, yakni Ali, Mu’awiyah, amr bin al-ash, Abu Musa al-asy’ari adalah kafir, berdasarkan firman Allah pada surat al-Maidah ayat 44:
(ومن لم يحكم بما انزل ال فأولئك هم الكافرون )المائدة: 44
Artinya:
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
Semua pelaku dosa besar (murtabb al-kabiiah), menurut semua sub sekte khwarij, kecuali najdah adalah kafir dan akan disiksa dineraka selamanya. Sub sekte yang sangat ekstrim, azariqah, menggunakan istilah yang lebih mengerikan dari kafir, yaitu musyrik. Mereka memandang musyrik bagi siapa saja yang tidak mau bergabung dengan barisan mereka. Adapun pelaku dosa besar dalam pandangan mereka telah beralih status keimanannya menjadi kafir millah (agama), dan berarti ia telah keluar dari Islam, mereka kekal dineraka bersama orang-orang kafir lainnya.
2. Menurut aliran Murji’ah
Pandangan aliran murji’ah tentang setatus pelaku dosa besar dapat ditelusuri dari definisi iman yang dirumuskan oleh mereka. Secara garis besar, sebagaimana telah dijelaskan sub sekte Khawarij dapat dikategorikan dalam dua kategori: ekstrim dan moderat. Harun nasution berpendapat bahwa sub sekte murji’ah yang ekstrim dan mereka yang berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Adapun ucapan dan perbuatan tidak selamanya merupakan refleksi dari apa yang ada di dalam kalbu. Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti telah menggeser atau merusak keimanannya. Bahkan keimanannya masih sempurna dimata Tuhan. Adapun murji’ah moderat ialah mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir. Meskipun disiksa dineraka, ia tidak kekal didalamnya, bergantung pada ukuran dosar yang dilakukannya. Masih terbuka kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya sehingga ia bebas dari siksa neraca.
3. Menurut aliran Mu’tazilah
Perbedaannya, bila khwarij mengkafirkan pelaku dosa besar dan murji’ah memelihara keimanan pelaku dosa besar,
Mu’tazilah tidak menentukan status dan predikat yang pasti bagi
pelaku dosa besar, apakah ia tetap mukmin atau kafir, kecuali
dengan sebutan yang sangat terkenal, yaitu al-manzilah baial
manzilataini.
Setiap pelaku dosa besar, menurut Mu’tazilah, berada
diposisi tengah diantara posisi mukmin dan kafir. Jika
pelakunya meninggal dunia dan belum sempat bertaubat, ia
akan dimasukkan ke dalam nerak selama-lamanya. Walaupun
demikian, siksaan yang diterimanya lebih ringan dari pada
siksaan orang-orang kafir. Dalam perkembangannya, beberapa
tokoh Mu’tazilah, seperti wastul bin atha’ dan amr bin ubaid
memperjelas sebutan itu dengan istilah fasik yang bukan
mukmin atau kafir.
4. Aliran Asy’ariyah
Terhadap pelaku dosa besar, agaknya al-asy’ari, sebagai
wakil ahl-as-Sunah, tidak mengkafirkan orang-orang yang sujud
ke baitullah (ahl-al-qiblah) walaupun melakukan dosa besar,
seperti berzina dan mencuri. Menurutnya, mereka masih tetap
sebagai orang yang beriman dengan keimanan yang mereka
miliki, sekalipun berbuat dosa besar. Akan tetapi jika dosa besar
itu dilakukannya dengan anggapan bahwa hal ini dibolehkan
(halal) dan tidak meyakini keharamannya, ia dipandang telah
kafir.
Adapun balasan di akhirat kelak bagi pelaku dosa besar,
apabila ia meninggal dan tidak sempat bertaubat, maka menurut
al-asy’ari, hal itu bergantung pada kebijakan Tuhan Yang Maha
Esa berkehendak mutlaq. Dari paparan singkat ini, jelaslah
bahwa asy’ariyah sesungguhnya mengambil posisi yang sama
dengan murji’ah, khususnya dalam pernyataan yang tidak
mengkafirkan para pelaku dosa besar.
5. Aliran Maturidiyah
Aliran maturidiyah, baik samarkand maupun bukhara,
sepakat menyatakan bahwa pelaku dosa masih tetap sebagai
mukmin karena adanya keimanan dalam dirinya. adapun
balasan yang diperolehnya kelak di akhirat bergantung pada apa
yang dilakukannya di dunia. jika ia meninggal tanpa tobat
terlebih dahulu, keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada
kehendak Allah SWT. jika menghendaki pelaku dosa besar
diampuni, ia akan memasukkan ke neraca, tetapi tidak kekal
didalamnya.
6. Aliran Syi’ah Zadiyah
Penganut Syi’ah zaidiyah percaya bahwa orang yang
melakukan dosa besar akan kekal di dalam neraca, jika ia belum
tobat dengan tobat yang sesungguhnya. Dalam hal ini, Syi’ah
zaidiyah memang dekat dengan Mu’tazilah. Ini bukan sesuatu
yang aneh mengingat washil bin atha’, mempunyai hubungan
dengan zaid moojan momen bahkan mengatakan bahwa zaid
pernah belajar kepada washil bin atho’2
C. Sifat-sifat Tuhan
1. Menurut aliran Mu’tazilah
Pertentangan paham antara kaum Mu’tazilah dan kaum
asy’ariyah dalam masalah ini berkisar sekitar persoalan apakah
Tuhan mempunyai sifat atau tidak. Jika Tuhan mempunyai
sifat-sifat itu mestilah kekal seperti halnya dengan zat Tuhan.
Tegasnya, kekalnya sifat-sifat akan membawa kepada paham
banyak yang kekal (ta’addud al-qudama’ atau poltiplicity of
eternals). Dan ini selanjutnya membawa pula kepada paham
syirik atau polyteisme. Suatu hal yang tak dapat diterima dalam
teologi.
Sebagian telah dilihat dalam bagian 1, kaum Mu’tazilah
mencoba menyelesaikan persoalan ini dengan mengatakan
bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Ini berarti bahwa Tuhan
tidak mempunyai pengetahuan, tidak mempunyai kekuatan dan
sebagainya. Tuhan tetap mengetahui dan sebagainya bukanlah
sifat dalam arti kata sebenarnya. Arti “Tuhan mengetahui
dengan perantara pengetahuan dan pengetahuan itu adalah
Tuhan sendiri.
2. Menurut Aliran Asy’ariyah
Kaum asy’ariyah membawa penyelesaian yang
berlawanan dengan Mu’tazilah mereka dengan tegas
mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat.
Menurut aliran asy’ariyah sendiri tidak dapat diingkari
bahwa Tuhan mempunyai sifat, karena perbuatan-perbuatan
nya, di samping menyatakan bahwa Tuhan mengetahui dan
sebagainya, juga menyatakan bahwa ia mempunyai
pengetahuan, kemauan, dan daya.3
3. Aliran Maturidiyah
Dapat ditemukan persamaan antara al-maturidi dan alasy’ari,
seperti di dalam pendapat bahwa Tuhan mempunyai
sifat-sifat seperti sama’, basher dan sebagainya. walaupun
begitu pengertian al-maturidi tentang sifat berbeda dengan alasy’ari.
Menurut al-maturidi sifat tidak dikatakan sebagai
esensinya dan bukan pula dari esensi-Nya. Sifat-sifat Tuhan itu
mulazamah (ada bersama, baca: inheren) dzat tanpa pemisah.
Tampaknya paham al-maturidi, tentang makna sifat
cenderung mendekati paham Mu’tazilah. Perbedaannya almaturidi
mengaku adanya sifat-sifat sedangkan al-Mu’tazilah
menolak adanya sifat-sifat Tuhan.
4. Aliran Syi’ah Rafidhah
Sebagian besar tokoh Syi’ah rafidhah menolak bahwa Allah
senantiasa bersifat tahu, namun adapula sebagian dari mereka
berpendapat bahwa Allah tidak bersifat tahun terhadap sesuatu
sebelum ia menghendaki. Tatkala ia menghendaki sesuatu, ia
pun bersifat tahu, jika dia tidak menghendaki, dia tidak bersifat
tahu, maka Allah berkehendak menurut merek adalah bahwa
Allah mengeluarkan gerakan (taharraka harkah), ketika gerakan
itu muncul, ia bersifat tahu terhadap sesuatu itu. Mereka
berpendapat pula bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap
sesuatu yang tidak ada.
D. Iman dan kufur
1. Aliran Khawarij
Khawarij menetapkan dosa itu hanya satu macamnya,
yaitu dosa besar agar dengan demikian orang Islam yang tidak
sejalan dengan pendiriannya dapat diperangi dan dapat
dirampas harta bendanya dengan dalih mereka berdosa dan
setiap yang berdosa adalah kafir. Mengkafirkan Ali, Utsman, 2
orang hakam, orang-orang yang terlibat dalam perang jamal dan
orang-orang yang rela terhadap tahkim dan mengkafirkan
orang-orang yang berdosa besar dan wajib berontak terhadap
penguasa yang menyeleweng.
Dan iman menurut kwaharij, iman bukanlah tasdiq. Dan
iman dalam arti mengetahui pun belumlah cukup. Menurut
Abd. Al-jabbar, orang yang tahu Tuhan tetapi melawan kepadanya,
bukanlah orang yang mukmin, dengan demikian iman bagi
mereka bukanlah tasdiq, bukan pula ma’rifah tetapi amal yang
timbul sebagai akibat dari mengetahui Tuhan tegasnya iman
bagi mereka adalah pelaksanaan perintah-perintah Tuhan6
2. Aliran Murji’ah
Menurut sub sekte murji’ah yang ekstrim adalah mereka
yang berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu.
Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang
menyimpang dari kaidah agama tidak berarti menggeser atau
merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurna
dalam pandangan Tuhan.
Sementara yang dimaksud murji’ah moderat adalah
mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah
menjadi kafir. Meskipun disiksa di neraka, ia tidak kekal
didalamnya bergantung pada dosa yang dilakukannya.7
3. Aliran Mu’tazilah
Iman adalah tashdiq di dalam hati, iktar dengan lisan dan
dibuktikan dengan perbuatan konsep ketiga ini mengaitkan
perbuatan manusia dengan iman, karena itu, keimanan
seseorang ditentukan pula oleh amal perbuatannya. Konsep ini
dianut pula olah Khawarij.8
4. Aliran Asy’ariyah
Menurut aliran ini, dijelaskan oleh syahrastani, iman secara
esensial adalah tasdiq bil al janan (membenarkan dengan
kalbu). Sedangkan qaul dengan lesan dan melakukan berbagai
kewajiban utama (amal bil arkan) hanya merupakan furu’
(cabang-cabang) iman. Oleh sebab itu, siapa pun yang
membenarkan ke-Esaan Allah dengan kalbunya dan juga
membenarkan utusan-utusan nya beserta apa yang mereka bawa
dari-Nya, iman secara ini merupakan sahih. Dan keimanan
seseorang tidak akan hilang kecuali ia mengingkari salah satu
dari hal-hal tersebut.9
5. Maturidiyah
Iman adalah tasdid dalam hati dan diikrarkan dengan
lidah, dengan kata lain, seseorang bisa disebut beriman jika ia
mempercayai dalam hatinya akan kebenaran Allah dan
mengikrarkan kepercayaannya itu dengan lidah. Konsep ini
juga tidak menghubungkan iman dengan amal perbuatan
manusia. yang penting tasdid dan ikrar.
E. Perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia
1. Aliran Jabariyah
Menurut aliran ini, manusia tidak berkuasa atas
perbuatannya yang menentukan perbuatan manusia itu adalah
Tuhan, karena itu manusia tidak berdaya sama sekali untuk
mewujudkan perbuatannya baik atau buruk.
Diumpamakan manusia seperti wayang yang tidak
berdaya, bagaimana dan kemana ia bergerak terserah dalang
yang memainkan wayang itu. Dalang manusia adalah Tuhan, ini
dianggap paham Jabariyah yang dianggap moderat, perbuatan
manusia tidak sepenuhnya ditentukan untuk Tuhan, tetapi
manusia punya andil juga dalam dalam mewujudkan
perbuatannya.
2. Aliran Qadariyah
Manusia mempunyai iradat (kemampuan berkehendak
atau memilih) dan qudrah (kemampuan untuk berbuat).
Menurut paham ini Allah SWT membekali manusia sejak
lahirnya dengan qudrat dan iradat, suatu kemampuan untuk
mewujudkan perbuatan-perbuatan tersebut.10
3. Aliran Mu’tazilah
10 Drs. H. M. Yusran Asmuni. Op.Cit. hal. 159-160
Paham ini dalam masalah af’al ibadah seirama dengan
paham Qadariyah untuk perbuatan-perbuatan Tuhan, mereka
berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban itu
dapat disimpulkan dalam satu kewajiban yaitu kewajiban
berbuat baik dan terbaik bagi manusia seperti kewajiban Tuhan
menepati janji-janji-Nya. Kewajiban Tuhan mengirim Rasulrasul-
Nya untuk petunjuk kepada manusia dan lain-lain.11
4. Aliran Asy’ariyah
Dalam menggambarkan hubungan perbuatan manusia
dengan qodrat dan iradat Tuhan, Abu Hasan Ali Bin Ismail al-
Asy’ari menggunakan paham kasb yang dimaksud dengan al-
Kasb adalah berbarengan kekuasaan manusia dengan perbuatan
Tuhan. Artinya apabila seseorang ingin melakukan suatu
perbuatan, perbuatan itu baru terlaksana jika sesuai dengan
kehendak Tuhan.
5. Aliran Maturidiyah
Menurut golongan maturidiyah, kemauan sebenarnya
adalah kemauan Tuhan namun tidak selamanya perbuatan
manusia dilakukan atas kerelaan Tuhan karena Tuhan tidak
menyukai perbuatan-perbuatan buruk. Jadi di dalam aliran
maturidiyah ada 2 unsur: kehendak dan kerelaan.
F. Kehendak muthlak dan keadilan Tuhan
1. Aliran Mu’tazilah
Mu’tazilah yang berperinsip keadilan Tuhan mengatakan
bahwa Tuhan itu adil dan tidak mungkin bebuat zalim dengan
memaksakan kehendak kepada hamba-Nya kemudian
mengharuskan hamba-Nya untuk menanggung akibat
perbuatannya, secara lebih jelas aliran Mu’tazilah mengatakan
bahwa kekuasaan sebenarnya tidak mutlak lagi. Itulah sebabnya
Mu’tazilah menggunakan ayat 62 surat Al-Ahzab (33)
سنة ال فى الذين خلوا من قبل ولن تجد لسنة ال تبديل
2. Aliran Asy’ariyah
Mereka percaya pada kemutlakan kekuasaan Tuhan,
berpendapat bahwa perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan,
yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu semata-mata
adalah kekuasan dan kehendak mutlak-Nya dan bukan karena
kepentingan manusia atau tujuan yang lain.
Landasan surat al-Buruj ayat 16
فعال لمايريد
3. Aliran Maturidiyah
Kehendak mutlak Tuhan, menurut maturidiyah
samarkand, dibatasi oleh keadilan Tuhan, Tuhan adil
mengandung arti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik dan
tidak mampu untuk berbuat serta tidak mengabaikan kewajibankewajiban
hanya terhadap manusia. pendapat ini lebih dekat
dengan Mu’tazilah.
Adapun maturidiyah bukharak berpendapat bahwa Tuhan
mempunyai kekuasaan mutlak, Tuhan berbuat apa saja yang
dikehendaki-Nya dan menentukan segala-galanya tidak ada
yang menentang atau memaksa Tuhan dan tidak ada larangan
bagi Tuhan. Tampaknya aliran maturidiyah bukhara lebih dekat
dengan asy’ariyah.12
BAB III
KESIMPULAN
kaum Mu’tazilah berpendapat semua persoalan di atas dapat
diketahui oleh akal manusia dengan perantara akal yang sehat dan
cerdas seseorang dapat mencapai makrifat dan dapat pula mengetahui
yang baik dan buruk. Bahkan sebelum wahyu turun, orang sudah
wajib bersyukur kepada Tuhan. Menjauhi yang buruk dan
mengerjakan yang baik.
Ciri yang menonjol dari aliran Khawarij adalah watak
ektrimitas dalam memutuskan persoalan-persoalan kalam. Tak heran
kalau aliran ini memiliki pandangan ekstrim pula tentang status pelaku
dosa besar.
Kaum asy’ariyah membawa penyelesaian yang berlawanan
dengan Mu’tazilah mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan
mempunyai sifat.
Menurut aliran asy’ariyah sendiri tidak dapat diingkari bahwa
Tuhan mempunyai sifat, karena perbuatan-perbuatan nya, di samping
menyatakan bahwa Tuhan mengetahui dan sebagainya, juga
menyatakan bahwa ia mempunyai pengetahuan, kemauan, dan daya.
Menurut sub sekte murji’ah yang ekstrim adalah mereka yang
berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Oleh karena
itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari
kaidah agama tidak berarti menggeser atau merusak keimanannya,
bahkan keimanannya masih sempurna dalam pandangan Tuhan.
Kehendak mutlak Tuhan, menurut maturidiyah samarkand,
dibatasi oleh keadilan Tuhan, Tuhan adil mengandung arti bahwa
segala perbuatan-Nya adalah baik dan tidak mampu untuk berbuat
serta tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban hanya terhadap
manusia. pendapat ini lebih dekat dengan Mu’tazilah.
DAFTAR PUSTAKA
DR. Abdul Rozak, M.Ag. DR. Rosihon Anwar, M. Ag, Ilmu Kalam,
Pustaka Setia Bandung: 2006.
Harun Nasution Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisis
Pebandingan UI Press, Jakarta: 1986
Drs. H. Sahilun A Nasir. Pengantar Ilmu Kalam Raja grafindo
Persada. Jakarta: 1996:
Drs. H. M. Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid. Raja Grafindo Persada
Jakarta: 1993.
syi’ah
Januari 18, 2009 pada 5:41 am (Uncategorized)
Tags: syi'ah
Asal-usul Syi’ah
Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak masa
pemerintahan Utsman bin Affan yang di komandoi oleh Abdullah bin Saba’ mengintrodusir ajarannya dengan terang-terangan dan menggalang masa untuk
memproklamirkan bahwa kepemimpinan (baca:Imamah) sesudah Nabi saw. Sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Namun,
menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut.
Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi
Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain.
Aliran Syi’ah pada abad pertama Hijriah belum merupakan aliran yang solid sebagai trand yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang
pada abad ke dua Hijriah dan abad-abad berikutnya.
POKOK-P0KOK PENYIMPANGAN SYI’AH PADA PERIODE PERTAMA sbb:
· Keyakinan bahwa Imam sesudah Rasulullah saw. Adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok
· kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib r.a. Keyakinan bahwa Imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).
· Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.
· Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghoib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
· Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib karena keyakinan tersebut.
Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
· Keyakinan mencaci maki ara sahabat atau sebagian sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, hal.237).
Pada abad kedua Hijriah perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaeni dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.
POKOK-POKOK PENYIMPANGAN SYI’AH SECARA UMUM :
Pada Rukun Iman :
Syi’ah hanya memiliki 5 rukun Iman tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Rasul dan Qodho dan Qodar, yaitu :
1. Tauhid (Keesaan Allah),
2. Al ‘Adl (Keadilan Allah),
3. Nubuwwah (Kenabian),
4. Imamah (Kepemimpinan Imam),
5. Ma’ad (Hari kebangkitan dan pembalasan). (lihat ‘Aqa’idul Imamiyyah oleh Muhammad Ridho Mudhoffar dll.)
Pada Rukun Islam :
Syi’ah tidak mencantumkan Syahadatain dlm rukun Islam, yaitu :
1. Sholat,
2. Zakat,
3. Puasa,
4. Haji,
5. Wilayah (Perwalian) (lihat Al Kafie juz II hal. 18).
Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an sekarang ini telah dirubah, ditambah atau dikurangi dari yg seharusnya. (lihat Al-Qur’an Surat Al _Baqarah/ 2:23). Karena itu mereka meyakini : Abu Abdillah (Imam Syi’ah) berkata : “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad saw. Adalah tujuh belas ribu ayat (Al Kafifil Ushul juz II hal 634). Al-Qur’an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah (lihat kitab Syi’ah Al Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fathul Khithob karangan Annuri Ath Thibrisy).
Syi’ah meyakini bahwa para sahabat sepeninggal Nabi saw. Mereka murtad, kecuali beberapa orang saja seperti : Al-Miqdad bin al_Aswad, Abu Dzar Al Ghifari dan Salman Al Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal. 245, Al-Ushul minal Kafi juz hal. 244)
Syi’ah menggunakan senjata taqiyyah yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabuhi (Al Kafifil Ushul juz II hal. 217)
Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasad nya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat di kala Imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.
Syiah percaya kepada Al Bada’ yakni tampak bagi Allah dalam hal keimanan Ismail (yang telah dinobatkan keimanannya oleh ayahnya, Ja’far As-Shidiq, tetapi kemudian meninggal di saat ayahnya masih hidup) yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka , Allah boleh khilaf, tetapi Imam mereka tetap maksum (terjaga).
Syi’ah membolehkan nikah mut’ah yaitu nikah kontrak dengan jangka weaktu tertentu (lihat Tafsir Minhajus Shodiqin juz II hal. 493). Padahal hal itu telah diharamkan oleh Rasulukllah SAW Yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri.
logo nu
Januari 16, 2009 pada 9:04 am (oraganisasi)
Tags: arti lambang NU, logo, NU

Jam’iyah (organisasi) Nahdlatul Ulama didirikan oleh para Ulama pondok pesantren dalam musyawarah di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926. Nahdlatul Ulama berasal dari bahasa arab. Nahdlatul artinya bangkit atau bergerak. Ulama artinya kebangkitan para ulama. Nama Nahdlatul Ulama adalah usulan dari KH. Mas Alwi Abdul Aziz, seorang tokoh pendiri dari Surabaya yang kemudian di sepakati oleh para ulama yang hadir dalam Musyawarah tersebut.
Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan mempunyai lambang yang menggambar dasar tujuan cita-cita dari keberadaan organisasi. Lambang Nahdlatul Ulama diciptakan oleh KH. Ridlwan Abdullah, setelah melalui proses perenungan dan hasil shalat Istikhoroh sebagai petunjuk dari Allah SWT. LambangNahdlatul Ulama adalah sebagai berikut:
Lambang NahdlatulUlama, mempunyai arti sebagai berikut:
- Globe(bola dunia), melambangkan bumi tempat manusia hidup dan cari kehidupan yaitu dengan berjuang, beramal, dan berilmu. Bumi mengingatkan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah serta dikeluarkan dari tanah pada hari kiamat.
- Peta Indonesis yang terlihat pada globe, melambangkan bahwa NU berdiri di Indonesia dan berjuang untuk kekayaan negara RI.
- Tali bersimpul yang melingkari globe, melambangkan persatuanyang kokoh dan ikatan di bawahnya melambangkan hubungan manusia dengan Allah SWT. Untaian tali berjumlah 99, melambangkan Asmaul Husna agar manusia hidup bahagia di dunia dan akhirat.
- Bintang besar, melambangkan kepemimpinan nabi Muhammad SAW. Empat bintang di atas garis katulistiwa melambangkan kepemimpinan Khulafaur Rosyidin (Abu bakar Shiddiq, Umar bin Khotob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib). Empat di bawah garis katulistiwa melambangkan empat madzab (Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi). Jumlah bintang ada 9 melambangkan Walisongo.
- Tulisan arab “Nahdlatul Ulama” membentang dari kanan ke kiri, menunjukkan nama organisasi yang berarti kebangkitan para Ulama.
- Warna dasar hijau melembangkan kesuburan tanah air Indonesia, Sedangkan tulisan berwarna putih melambangkan kesucian.
Bedasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa NU adalah organisasi keagamaan yang setia mengikuti ajaran nabi Muhammad SAW. dan para sahabat, menganut salah satu madzhab empat serta sebagai kelanjutan dari perjuangan Walisongo dalam berdakwah islam di Indonesia.